Kebangkitan ODI Inggris: Menuju Piala Dunia 2027 dengan Skuad yang Mulai Padu
Baca dalam 60 detik
- Timnas ODI Inggris membalikkan keadaan dengan memenangi dua seri berturut-turut setelah awal buruk, termasuk mengalahkan India 2-1.
- Pasangan pembuka baru Duckett-Bethell dan kembalinya performa Joe Root menjadi kunci kebangkitan, dengan Root mencatat enam skor 50+ beruntun.
- Persaingan ketat posisi fast bowler ketiga dan kekhawatiran performa Adil Rashid menjadi pekerjaan rumah menjelang Piala Dunia 2026 di Afrika Selatan dan Zimbabwe.

Setelah melalui masa sulit di awal musim panas, tim one-day international (ODI) Inggris perlahan menunjukkan grafik positif. Dalam sebulan terakhir, skuad asuhan Brendon McCullum berhasil membalikkan keadaan dengan memenangi dua seri ODI berturut-turut, termasuk kemenangan 2-1 atas India, tim peringkat satu dunia. Kemenangan ini menjadi sinyal bahwa 'The Three Lions' mulai menemukan ritme permainan yang sempat hilang sejak kegagalan mempertahankan gelar Piala Dunia 2023.
Perubahan signifikan yang dilakukan McCullum adalah memasang duet kiri baru Ben Duckett dan Jacob Bethell sebagai pembuka. Keputusan ini langsung membuahkan hasil spektakuler di Lord's, di mana mereka mencatatkan rekor kemitraan pembuka tertinggi di kandang Inggris. Duckett mencetak 141, sementara Bethell yang baru berusia 22 tahun nyaris mengukir abad keduanya dengan 91. Keberhasilan ini memungkinkan Inggris membawa bowler tambahan, sehingga komposisi tim menjadi lebih seimbang dengan tiga paceman, satu spinner, dan dua all-rounder.
Di sisi lain, Joe Root kembali menjadi pilar andalan. Setelah sempat tersingkir dari skuad ODI sepanjang 2024 karena performa menurun, pemain berusia 35 itu bangkit dengan rata-rata 81,5 dalam 21 inning terakhir. Ia kini mencatat enam skor 50+ beruntun, rekor pertama bagi pemain Inggris. Dalam seri melawan India, Root menunjukkan ketenangan dan agresivitas, dengan strike-rate 154,17 pada inning tak terkalahkan 74 di Lord's—tertinggi dalam karier ODI-nya untuk skor di atas 50.
Meski demikian, masih ada pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Persaingan memperebutkan posisi fast bowler ketiga masih terbuka lebar. Jofra Archer otomatis menjadi pilihan utama jika fit, dan Gus Atkinson tampil meyakinkan dengan 3-50 di Cardiff serta ekonomi 4,00 di Lord's. Namun, Josh Tongue dan Saqib Mahmood belum mampu mengamankan tempat. Tongue hanya mengambil satu wicket dalam dua pertandingan dan boros di Lord's (43 run dari 5 over), sementara Mahmood meski mencatat 2-52 di Cardiff, harus bergantian dengan Tongue. Brydon Carse yang pulih dari cedera dan Jamie Overton yang masih dalam pemulihan juga menjadi opsi.
Kekhawatiran lain datang dari spinner senior Adil Rashid. Pemain 38 tahun itu baru mengoleksi delapan wicket di ODI sepanjang 2026, dan hanya satu dalam seri melawan India. Meski ekonomi rate-nya masih terjaga di bawah enam, ketajamannya sebagai pemetik wicket di fase tengah (over 11-40) perlu ditingkatkan. Inggris sangat bergantung padanya di periode krusial tersebut, dengan 32 dari 72 wicket di fase itu sejak awal tahun lalu.
Bagi Indonesia, perkembangan tim ODI Inggris menarik untuk dicermati, terutama menjelang Piala Dunia 2026 yang akan digelar di Afrika Selatan dan Zimbabwe. Kondisi lapangan keras di sana membutuhkan paceman murni, dan Inggris tampaknya akan mengandalkan tiga fast bowler dengan dukungan Curran. Jika Inggris mampu memantapkan komposisi ini, mereka bisa menjadi ancaman serius bagi tim-tim Asia seperti India dan Pakistan yang kerap mendominasi di turnamen global. Jadwal uji coba melawan Australia (November 2026) dan Afrika Selatan (Januari 2027) akan menjadi indikator kesiapan mereka.
Dengan jadwal padat yang sudah menanti—seri melawan Sri Lanka pada September, Australia pada November, dan Afrika Selatan pada Januari—Inggris memiliki waktu singkat untuk mematangkan skuad. Pertanyaan besarnya: mampukah McCullum dan anak asuhnya mengulang kesuksesan 2019, atau justru kembali terpuruk seperti di edisi 2023? Jawabannya akan mulai terlihat dalam beberapa bulan ke depan.



