Prabowo Klaim Bullion Bank RI Kelola 153 Ton Emas Senilai US$20 Miliar dalam Setahun
Baca dalam 60 detik
- Presiden Prabowo memamerkan bank emas nasional yang mengelola 153 ton emas atau setara US$20 miliar hanya dalam satu tahun operasi.
- Pencapaian ini disebut sebagai tonggak sejarah karena Indonesia untuk pertama kalinya memiliki lembaga pengelola emas skala besar.
- Optimisme pemerintah terhadap pertumbuhan bullion bank di masa depan diyakini akan memperkuat ketahanan ekonomi dan daya tawar Indonesia di pasar global.

Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan bahwa bank emas nasional atau bullion bank yang baru beroperasi setahun telah berhasil mengelola 153 ton emas dengan nilai mencapai US$20 miliar. Capaian ini disampaikan dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta, Senin (20/7/2026), sebagai salah satu prestasi yang disebutnya bersejarah bagi perekonomian Indonesia.
Menurut Prabowo, pendirian bank emas merupakan langkah strategis yang belum pernah dilakukan sebelumnya di Indonesia. Lembaga ini, yang dijalankan oleh PT Pegadaian (Persero) dan PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI), resmi diluncurkan pada 26 Februari 2025. Dalam waktu singkat, bullion bank mampu mengelola emas dalam jumlah yang signifikan, mencerminkan potensi besar sektor ini.
"Kita ternyata diam-diam telah mencapai prestasi skala dunia. Bisa dicek, bank emas mana yang mengelola 153 ton emas dalam satu tahun," ujar Prabowo dengan nada optimis. Ia menantang pihak lain untuk membandingkan capaian tersebut dengan negara mana pun, menegaskan bahwa Indonesia kini mulai diperhitungkan di kancah global.
Prabowo menilai bahwa keberhasilan ini tidak hanya menjadi kebanggaan nasional, tetapi juga memperkuat ketahanan ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian global. Dengan mengelola emas dalam jumlah besar, Indonesia memiliki instrumen keuangan yang lebih kokoh untuk menghadapi gejolak pasar. Ia optimistis nilai kelolaan bank emas akan terus meningkat pada tahun-tahun mendatang, seiring dengan perluasan layanan dan minat masyarakat.
Dalam kesempatan yang sama, Prabowo menanyakan langsung nilai emas yang dikelola kepada CEO Danantara sekaligus Menteri Investasi Rosan Roeslani, yang mengonfirmasi angka US$20 miliar. Hal ini menunjukkan sinergi antara pemerintah dan badan usaha dalam mengelola aset strategis. Bagi investor dan pelaku pasar, keberadaan bullion bank membuka peluang baru dalam diversifikasi portofolio dan lindung nilai terhadap inflasi.
Bagi pembaca di Indonesia, pencapaian ini memiliki implikasi langsung. Masyarakat kini memiliki akses lebih luas untuk berinvestasi emas melalui jalur resmi dan terpercaya, sementara pemerintah mendapatkan sumber pembiayaan alternatif yang lebih stabil. Ke depan, bullion bank diharapkan dapat menjadi pilar utama dalam memperdalam pasar keuangan domestik dan mengurangi ketergantungan pada instrumen asing.
Pertanyaan yang muncul kemudian: mampukah bullion bank Indonesia mempertahankan laju pertumbuhan ini di tengah persaingan global dan fluktuasi harga emas? Atau justru akan menjadi bumerang jika tidak dikelola dengan prinsip kehati-hatian? Waktu yang akan menjawab, namun optimisme pemerintah patut diapresiasi sebagai langkah awal yang berani.



