Rupiah Terancam Tembus Rp 18.000 per Dolar AS Jelang Keputusan BI Rate
Baca dalam 60 detik
- Rupiah melemah ke Rp 17.970 per dolar AS pada perdagangan Senin pagi, mendekati level psikologis Rp 18.000.
- Pelemahan terjadi di tengah antisipasi pasar terhadap keputusan suku bunga Bank Indonesia yang akan diumumkan pekan ini.
- Konflik AS-Iran yang memanas mendorong harga minyak di atas USD 80 per barel, menekan rupiah lebih lanjut.

Nilai tukar rupiah kembali terperosok mendekati level psikologis Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat pada perdagangan Senin (20/7/2026) pagi, tepat di saat pasar menanti keputusan suku bunga Bank Indonesia (BI) pekan ini. Pada pukul 10:03 WIB, rupiah diperdagangkan di Rp 17.970 per dolar AS, melemah tipis dibandingkan penutupan akhir pekan lalu.
Pelemahan ini terjadi meski Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil mempertahankan tren penguatan di level 6.226. Kondisi itu menunjukkan bahwa tekanan terhadap rupiah lebih dipengaruhi oleh faktor eksternal, terutama ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang kembali memanas. Konflik tersebut mendorong harga minyak mentah dunia melonjak ke atas USD 80 per barel, level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir.
Kenaikan harga minyak menjadi sentimen negatif bagi negara importir minyak seperti Indonesia. Biaya impor energi yang membengkak berpotensi memperlebar defisit transaksi berjalan dan menekan cadangan devisa. Analis memperkirakan, jika harga minyak terus bertahan di atas USD 80 per barel, tekanan terhadap rupiah akan semakin berat, terutama jika The Fed kembali menaikkan suku bunga acuannya.
Di sisi lain, harga emas justru tertekan di kisaran Rp 4.000 per troy ons, mencerminkan peralihan preferensi investor ke aset berisiko seperti saham. Namun, pelemahan emas juga dipengaruhi oleh ekspektasi suku bunga tinggi di AS yang membuat dolar tetap perkasa. Bagi Indonesia, kombinasi rupiah lemah dan harga minyak tinggi menjadi dilema kebijakan: BI harus menjaga stabilitas nilai tukar tanpa mengorbankan pertumbuhan ekonomi.
Keputusan BI rate yang akan diumumkan pada Rabu (22/7) mendatang menjadi sorotan utama. Pasar memperkirakan bank sentral akan mempertahankan suku bunga acuan di level 6,25% untuk menahan tekanan inflasi dan pelemahan rupiah. Namun, jika tekanan eksternal terus meningkat, bukan tidak mungkin BI akan menaikkan suku bunga secara tak terduga. Langkah itu berisiko memperlambat pemulihan ekonomi domestik yang masih bergantung pada konsumsi dan investasi.
Bagi investor dan pelaku usaha di Indonesia, pelemahan rupiah di atas Rp 17.900 sudah mulai menggerus margin impor dan meningkatkan biaya produksi. Sektor manufaktur yang bergantung pada bahan baku impor, seperti elektronik dan otomotif, menjadi yang paling terpukul. Sementara itu, eksportir komoditas seperti batu bara dan kelapa sawit justru diuntungkan karena penerimaan dalam dolar AS menjadi lebih besar saat dikonversi ke rupiah.
Ke depan, pergerakan rupiah akan sangat bergantung pada hasil rapat BI dan perkembangan konflik AS-Iran. Jika ketegangan mereda dan harga minyak turun, rupiah berpotensi kembali ke bawah Rp 17.800. Namun, jika sebaliknya, bukan mustahil rupiah menembus Rp 18.000 dalam waktu dekat. Pertanyaannya, apakah BI memiliki bantalan yang cukup untuk menahan laju pelemahan tersebut?



