Ibu dan Anak Pejuang Kanker: Dari Leukemia hingga Kanker Payudara, Kini Bersama di Atas Panggung
Baca dalam 60 detik
- Vanessia Woo, seorang ibu di Singapura, harus merawat putrinya yang didiagnosis leukemia pada usia lima minggu, dan lima tahun kemudian dirinya sendiri didiagnosis kanker payudara stadium 3.
- Setelah menjalani pengobatan berat, keduanya kini akan berjalan di atas catwalk dalam acara amal Fashion for Cancer pada 29 Agustus 2026.
- Kisah ini menyoroti ketangguhan dan dukungan keluarga dalam menghadapi kanker, serta pentingnya deteksi dini dan akses pengobatan yang memadai.

Seorang ibu di Singapura, Vanessia Woo (48), harus menghadapi dua kali cobaan berat dalam hidupnya: pertama saat putrinya, Olivia Tan, didiagnosis leukemia pada usia lima minggu, dan lima tahun kemudian dirinya sendiri divonis menderita kanker payudara stadium 3. Kini, keduanya bersiap untuk berjalan di atas panggung dalam acara amal Fashion for Cancer pada 29 Agustus 2026.
Olivia didiagnosis menderita infantile acute lymphoblastic leukaemia, sejenis kanker darah langka dan agresif yang menyerang bayi di bawah satu tahun. Saat itu, 90 persen sel sumsum tulangnya telah menjadi sel leukemia, dan dokter memberikan peluang kesembuhan hanya 30 persen. Woo harus mengambil cuti tiga tahun dari pekerjaannya sebagai facilities manager untuk merawat Olivia di ruang isolasi rumah sakit selama enam bulan.
Pengobatan yang dijalani Olivia sangat berat. Ia menerima kemoterapi intensif yang menyebabkan berbagai efek samping, termasuk pembengkakan, rambut rontok, dan luka di sekujur tubuh. Salah satu efek jangka panjangnya adalah foot drop, yaitu kelumpuhan pada kaki kiri yang membuatnya harus menggunakan alat bantu ortotik. Ia juga menjalani transplantasi sel punca dari darah tali pusat kakaknya yang cocok, dan hingga kini masih menjalani pemantauan jantung serta terapi hormon pertumbuhan.
Pada Agustus 2023, Woo menemukan benjolan di payudara kirinya. Pemeriksaan menunjukkan kanker telah menyebar ke kelenjar getah bening di bawah tulang selangka. Ia menjalani berbagai pengobatan mulai dari kemoterapi, operasi pengangkatan kedua payudara, hingga radioterapi. Kini ia menjalani terapi hormon yang harus dilanjutkan selama lima hingga sepuluh tahun ke depan. Menurut Woo, pengalaman merawat Olivia justru memberinya kekuatan: "Jika anak seusia itu bisa begitu tangguh, sebagai orang dewasa saya harus bisa melewati ini."
Kisah ibu dan anak ini menjadi pengingat akan pentingnya deteksi dini dan dukungan psikologis bagi pasien kanker. Di Indonesia, kanker payudara masih menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi pada wanita, sementara leukemia pada anak juga memerlukan perhatian khusus. Akses terhadap pengobatan yang tepat dan dukungan keluarga menjadi faktor krusial dalam kesembuhan.
Fashion for Cancer sendiri merupakan ajang amal tahunan di Singapura yang menampilkan para penyintas kanker dan pasien yang masih dalam pengobatan. Acara ini tidak hanya menggalang dana untuk riset dan dukungan pasien, tetapi juga memberikan ruang bagi para pejuang kanker untuk merayakan kehidupan. Bagi Olivia, berjalan di atas catwalk adalah kesempatan untuk menunjukkan bahwa ia lebih dari sekadar penyakitnya. "Saya lelah ditanya soal kaki saya. Saya lebih suka bicara tentang tarian dan nyanyian," ujarnya.
Ke depan, baik Woo maupun Olivia harus terus menjalani pemantauan kesehatan secara berkala. Woo sadar bahwa kankernya bisa kambuh, namun ia memilih untuk hidup dengan lebih bermakna. Pertanyaan yang kini mengemuka: akankah kisah mereka menginspirasi lebih banyak orang untuk tidak menyerah dalam menghadapi kanker, dan mendorong peningkatan dukungan bagi para penyintas di Indonesia?



