Konflik AS-Iran Memanas, Harga Minyak Tembus USD 80, Emas Justru Tertekan
Baca dalam 60 detik
- Harga minyak mentah melonjak di atas USD 80 per barel setelah ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat.
- Di sisi lain, harga emas justru mengalami tekanan dan turun ke kisaran Rp 4.000 per troy ons, terbalik dari tren biasanya sebagai aset safe haven.
- IHSG masih bertahan di zona hijau meski rupiah melemah ke Rp 17.970 per dolar AS, menunjukkan sentimen investor yang selektif.

Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang kembali memanas pada Senin (20/4) mendorong harga minyak mentah dunia melonjak tajam, menembus level USD 80 per barel. Namun, yang menarik perhatian pelaku pasar adalah pergerakan harga emas yang justru tertekan, berbeda dengan kebiasaannya sebagai aset lindung nilai di tengah krisis.
Data perdagangan pagi ini menunjukkan harga emas dunia turun ke kisaran Rp 4.000 per troy ons, sementara minyak mentah jenis Brent dan West Texas Intermediate (WTI) kompak menguat. Kenaikan harga minyak ini dipicu oleh kekhawatiran gangguan pasokan dari kawasan Teluk, mengingat Iran merupakan salah satu produsen utama OPEC. Sebaliknya, emas yang biasanya diburu saat ketidakpastian global justru mengalami aksi jual, kemungkinan karena investor beralih ke aset berisiko seperti saham atau obligasi.
Di pasar domestik, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil mempertahankan tren penguatan di level 6.226 pada perdagangan sesi pertama. Namun, penguatan ini terjadi di tengah tekanan pada rupiah yang kembali melemah ke Rp 17.970 per dolar AS. Kondisi ini mencerminkan sikap investor yang masih optimistis terhadap prospek ekonomi Indonesia, meskipun ketidakpastian global meningkat.
Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, negara pengimpor minyak seperti Indonesia akan terbebani oleh biaya energi yang lebih tinggi, berpotensi mendorong inflasi dan memperlebar defisit transaksi berjalan. Di sisi lain, harga komoditas yang tinggi juga bisa menguntungkan sektor pertambangan dan energi yang terdaftar di bursa. Sementara itu, pelemahan rupiah menambah tekanan bagi sektor yang bergantung pada impor, termasuk industri manufaktur dan barang konsumsi.
Menurut analis pasar, pergerakan harga emas yang turun di tengah eskalasi konflik AS-Iran mengindikasikan bahwa investor saat ini lebih memilih aset berisiko seperti saham, dengan harapan pemulihan ekonomi global. Namun, jika ketegangan berlanjut dan mengarah pada konflik terbuka, emas bisa kembali menjadi primadona. Ke depan, pelaku pasar akan mencermati respons diplomatik kedua negara serta data ekonomi AS yang akan dirilis pekan ini. Akankah harga minyak terus meroket dan emas semakin terpuruk, atau justru terjadi pembalikan arah? Semua tergantung pada dinamika geopolitik yang masih sulit diprediksi.



