IHSG Melesat 0,86% di Tengah Aksi Jual Asing Rp302 Miliar, BBRI Jadi Primadona
Baca dalam 60 detik
- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 53,38 poin ke level 6.228,92 pada sesi I perdagangan Senin (20/7/2026), ditopang saham perbankan dan telekomunikasi.
- Investor asing mencatat net sell Rp302,86 miliar di seluruh pasar, namun tetap mengakumulasi saham BBRI senilai Rp116,70 miliar, menjadikannya saham dengan pembelian bersih tertinggi.
- Pergerakan pasar dipengaruhi sentimen wait and see menjelang hasil RDG BI, keputusan suku bunga ECB, dan data ekonomi China serta Jepang pekan ini.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menembus level 6.228 pada sesi I perdagangan Senin (20/7/2026), meskipun investor asing masih mencatatkan aksi jual bersih senilai Rp302,86 miliar. Penguatan indeks sebesar 0,86% ini terutama didorong oleh saham-saham perbankan dan telekomunikasi yang menjadi motor penggerak utama.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG ditutup di posisi 6.228,92, naik 53,38 poin dari penutupan sebelumnya. Sebanyak 398 saham menguat, sementara 188 saham melemah dan 205 lainnya stagnan. Nilai transaksi tercatat Rp8,27 triliun dengan volume 20,1 miliar saham yang diperdagangkan dalam 1,4 juta kali transaksi. Sektor konsumer primer memimpin penguatan sebesar 1,47%, diikuti oleh sektor barang baku, energi, dan properti. Hanya sektor kesehatan dan utilitas yang mengalami koreksi.
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) menjadi kontributor terbesar terhadap kenaikan IHSG dengan sumbangan 11,68 poin, disusul PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) sebesar 7,38 poin, dan PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) sebesar 4,41 poin. Menariknya, di tengah derasnya arus keluar dana asing, BBRI justru menjadi saham yang paling banyak diborong oleh investor asing dengan nilai pembelian bersih mencapai Rp116,70 miliar. Langkah ini menunjukkan kepercayaan asing terhadap prospek perbankan pelat merah di tengah ketidakpastian pasar.
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) menjadi sasaran jual asing terbesar dengan nilai penjualan bersih Rp229,11 miliar. Disusul oleh PT Astra International Tbk. (ASII) sebesar Rp69,86 miliar dan PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) Rp53,43 miliar. Selain itu, saham komoditas seperti PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) dan PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) juga mengalami tekanan jual. Di sisi lain, saham-saham seperti PT Bakrie & Brothers Tbk. (BNBR), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk. (CUAN), dan PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) justru menjadi incaran beli asing.
Pergerakan IHSG dan pola transaksi asing terjadi di tengah sikap wait and see pelaku pasar menjelang sejumlah agenda penting bank sentral pekan ini. Dari dalam negeri, fokus utama tertuju pada hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (BI) yang akan diumumkan pada Rabu (22/7/2026). Konsensus pasar memperkirakan BI akan mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75%. Keputusan ini dinilai krusial bagi arah kebijakan moneter domestik dan dapat mempengaruhi minat investor asing ke pasar obligasi dan saham Indonesia.
Dari eksternal, pasar juga menantikan keputusan Loan Prime Rate (LPR) China, suku bunga European Central Bank (ECB), serta rilis data perdagangan dan inflasi Jepang. Kombinasi sentimen global dan domestik ini menciptakan volatilitas jangka pendek, namun aksi beli asing terhadap BBRI dan beberapa saham lainnya mengindikasikan adanya optimisme selektif terhadap emiten tertentu. Bagi investor Indonesia, pola ini menegaskan pentingnya mencermati fundamental emiten di tengah arus modal asing yang fluktuatif.
Ke depan, pergerakan IHSG akan sangat bergantung pada hasil RDG BI dan respons pasar terhadap kebijakan suku bunga global. Jika BI tetap mempertahankan suku bunga, stabilitas nilai tukar rupiah dan daya tarik pasar modal Indonesia dapat terjaga. Namun, jika terjadi kejutan kebijakan, arus modal asing bisa berbalik arah. Pertanyaan yang kini mengemuka: akankah aksi beli asing terhadap BBRI menjadi awal tren akumulasi saham perbankan, atau hanya sekadar strategi jangka pendek di tengah ketidakpastian?



