Bankir DBS Nilai Indonesia Butuh US$169 Miliar untuk Transisi Energi, Peluang Besar di Tengah Ketidakpastian Global
Baca dalam 60 detik
- Presiden Direktur Bank DBS Indonesia Lim Chu Chong menilai prospek ekonomi Indonesia tetap positif meski ada tekanan global, dengan kebutuhan listrik diproyeksikan melonjak enam kali lipat pada 2060.
- Transisi energi di Indonesia membutuhkan investasi besar, termasuk pembangunan 47.700 km jaringan transmisi dan US$169 miliar di sektor ketenagalistrikan.
- DBS melihat perusahaan yang mampu bertahan bukan yang berbiaya terendah, melainkan yang membangun kepastian biaya, diversifikasi pemasok, dan ketahanan energi.

Presiden Direktur Bank DBS Indonesia, Lim Chu Chong, menyatakan bahwa Indonesia tetap menjadi salah satu pasar dengan prospek pertumbuhan terbesar di Asia, didorong oleh lonjakan kebutuhan energi dan pembangunan infrastruktur yang masif. Pandangan ini disampaikan di tengah ketidakpastian global yang dipicu konflik geopolitik, volatilitas harga komoditas, dan transisi energi.
Menurut Lim, kebutuhan listrik Indonesia diperkirakan meningkat drastis dari sekitar 300 terawatt saat ini menjadi lebih dari 1.800 terawatt pada 2060. Angka ini mencerminkan pertumbuhan aktivitas ekonomi dan konsumsi energi yang signifikan. Namun, tantangan besar menghadang: sekitar 81% bauran energi Indonesia masih bergantung pada bahan bakar fosil, sehingga transisi menuju energi bersih memerlukan investasi raksasa.
Lim mengungkapkan bahwa untuk memenuhi kebutuhan energi masa depan, Indonesia membutuhkan pembangunan sekitar 47.700 kilometer jaringan transmisi baru, kapasitas penyimpanan energi sebesar 10 gigawatt, dan investasi di sektor ketenagalistrikan mencapai US$169 miliar. "Pertanyaannya bukan soal peluang. Permintaan sudah ada. Tantangan sebenarnya adalah memobilisasi modal, membangun proyek yang layak dibiayai bank, dan mengamankan pasokan energi yang andal dalam skala besar," ujarnya dalam acara CNBC Indonesia Coffee Morning, Kamis (23/7/2026).
Di sisi lain, Lim menekankan bahwa perusahaan tidak bisa lagi mengandalkan pendekatan bisnis konvensional. Konflik geopolitik, sanksi ekonomi, fluktuasi harga komoditas, dan kebijakan transisi energi telah mengubah rantai pasok menjadi isu strategis. "Biaya untuk memasok bukan lagi tantangan operasional. Sekarang ini adalah tantangan strategis, dan ketahanan sangatlah penting," tegasnya.
Berdasarkan pengalaman DBS mendampingi perusahaan energi dan infrastruktur di Asia, Lim melihat perusahaan yang mampu bertahan justru bukan yang memiliki biaya paling rendah. Mereka yang berkinerja baik adalah yang membangun kepastian biaya, melakukan diversifikasi pemasok, memperkuat ketahanan energi, dan menjaga kesiapan investasi di tengah ketidakpastian. "Saat ini tidak ada yang namanya situasi pasti. Yang ada adalah perusahaan yang membangun kepastian, ketahanan, dan kesiapan investasi," katanya.
Bagi pelaku usaha di Indonesia, pesan ini menjadi relevan di tengah tekanan global. DBS berkomitmen tidak hanya sebagai penyedia pembiayaan, tetapi juga mitra strategis yang memberikan wawasan pasar dan membantu eksekusi proyek secara konsisten. Dengan sumber daya alam melimpah dan ambisi pembangunan yang kuat, Indonesia dinilai memiliki modal untuk tumbuh berkelanjutan, asalkan pembiayaan dan pasokan energi dapat dijamin.
Ke depan, tantangan terbesar adalah memastikan proyek-proyek energi bersih dapat menarik investasi dan memenuhi target pertumbuhan ekonomi. Akankah Indonesia mampu memobilisasi modal sebesar US$169 miliar dan membangun infrastruktur yang dibutuhkan? Jawabannya akan menentukan posisi Indonesia dalam peta investasi global.



