Dua Pemain Basket Singapura Dilarang Seumur Hidup FIBA karena Atur Skor
Baca dalam 60 detik
- FIBA menjatuhkan larangan seumur hidup kepada Oleksandr Kolchenko dan Sergii Pryimak karena memanipulasi pertandingan di Champions League East Asia.
- Asosiasi Bola Basket Singapura (BAS) menegaskan komitmennya pada fair play dan akan menindak tegas segala bentuk pengaturan skor.
- Kasus ini menjadi pengingat bagi industri olahraga Asia Tenggara, termasuk Indonesia, untuk memperketat pengawasan integritas pertandingan.

Federasi Bola Basket Internasional (FIBA) menjatuhkan sanksi larangan seumur hidup kepada dua pemain klub Singapura Adroit, Oleksandr Kolchenko dan Sergii Pryimak, atas keterlibatan mereka dalam praktik pengaturan skor (match-fixing) pada ajang Champions League East Asia, Mei 2025. Keputusan yang diumumkan pada 20 Mei itu langsung berlaku di semua kegiatan yang berada di bawah naungan FIBA, termasuk turnamen domestik di Singapura.
Asosiasi Bola Basket Singapura (BAS) dalam pernyataan resmi pada 15 Juli mengecam keras tindakan kedua pemain tersebut. BAS menyebut aksi itu telah โmerusak prinsip fair play dan mencoreng reputasi bola basket Singapura.โ Organisasi itu menegaskan akan menerapkan kebijakan toleransi nol terhadap segala bentuk kecurangan, serta akan terus memonitor secara ketat seluruh turnamen dan acara yang disanksi.
Investigasi FIBA mengungkap bahwa Kolchenko dan Pryimak memanipulasi hasil pertandingan Adroit melawan New Taipei Kings International. Selain itu, Kolchenko juga terbukti mengatur skor pada laga kontra Hi Tech Club. Keduanya kini tidak boleh berpartisipasi dalam kapasitas apa punโbaik sebagai pemain maupun peran lainโdi semua event FIBA dan BAS.
Kasus ini bukan yang pertama kali menimpa bola basket Singapura. Pada tahun lalu, sembilan orang ditangkap oleh Biro Investigasi Praktik Korupsi (CPIB) karena diduga terlibat pengaturan skor di K. Star National Basketball League Division 1. Beberapa di antaranya adalah pemain dari tim yang berlaga di edisi 2025. Mereka yang sedang diselidiki langsung diskors dari seluruh aktivitas bola basket resmi oleh Sport Singapore. Salah satu pertandingan yang diduga diatur adalah antara Tagawa dan Tong Whye pada 1 Agustus 2025, yang dimenangkan Tagawa dengan skor 66-43.
Bagi Indonesia, kasus ini menjadi alarm dini. Industri olahraga di Asia Tenggara, termasuk basket, rentan terhadap praktik match-fixing karena maraknya taruhan ilegal dan lemahnya pengawasan. Pengamat olahraga menilai federasi basket di Indonesia, Perbasi, perlu memperkuat sistem deteksi dini dan kerja sama dengan aparat penegak hukum untuk mencegah kasus serupa. โLangkah preventif seperti edukasi pemain dan wasit, serta penggunaan teknologi analitik untuk mendeteksi pola aneh dalam pertandingan, sangat penting,โ ujar seorang analis olahraga yang enggan disebut namanya.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah sejauh mana federasi-federasi di kawasan ini akan mengadopsi kebijakan zero-tolerance seperti yang diterapkan FIBA dan BAS. Apakah sanksi seberat larangan seumur hidup cukup efektif menjadi efek jera, atau justru mendorong praktik yang lebih licin? Yang jelas, integritas olahraga sedang diuji, dan respons tegas seperti ini menjadi standar yang harus diikuti.



