Rupiah Terperosok ke Rp17.960, Ancaman Tembus Rp18.000 Makin Nyata
Baca dalam 60 detik
- Rupiah dibuka melemah 0,42% ke Rp17.960 per dolar AS pada Senin (20/7/2026), mendekati level psikologis Rp18.000.
- Eskalasi konflik Timur Tengah mendorong permintaan dolar AS sebagai aset aman, menekan mata uang emerging market termasuk rupiah.
- Pasar menanti hasil RDG BI Rabu ini dan sikap The Fed yang terbelah antara menahan atau menaikkan suku bunga.

Nilai tukar rupiah kembali tertekan pada awal pekan ini, Senin (20/7/2026), dengan dibuka melemah 0,42% ke level Rp17.960 per dolar Amerika Serikat (AS)—semakin mendekati batas psikologis Rp18.000 yang terakhir kali disentuh pada pertengahan Juni lalu.
Berdasarkan data Refinitif, depresiasi pagi ini membalikkan penguatan tajam 0,53% yang terjadi pada penutupan akhir pekan lalu di Rp17.885. Pelemahan terjadi di tengah indeks dolar AS (DXY) yang stabil di kisaran 100,76, setelah menguat 0,28% pada Jumat sebelumnya. Namun, tekanan terhadap rupiah tidak hanya berasal dari pergerakan indeks dolar, melainkan juga dari meningkatnya permintaan terhadap dolar sebagai aset safe-haven akibat eskalasi konflik di Timur Tengah.
Ketegangan geopolitik tersebut turut mendorong harga minyak mentah global, yang kemudian memperkuat posisi dolar AS dan membatasi ruang apresiasi mata uang negara berkembang. Bagi Indonesia, kombinasi pelemahan rupiah dan kenaikan harga minyak menjadi momok ganda: di satu sisi mengerek biaya impor energi, di sisi lain menekan nilai aset dalam negeri di mata investor asing.
Dari sisi kebijakan moneter, pasar masih memperhitungkan The Federal Reserve akan kembali menahan suku bunga pada pertemuan 29 Juli mendatang. Berdasarkan CME FedWatch Tool, probabilitas status quo mencapai 85,6%, meningkat signifikan dibandingkan 61,5% pada sebulan lalu. Namun, arah kebijakan The Fed tidak sepenuhnya mulus. Presiden The Fed Cleveland, Beth Hammack, pada Jumat lalu bergabung dengan sejumlah pejabat yang menilai suku bunga mungkin perlu dinaikkan lagi guna meredam inflasi yang masih membandel. Pernyataan itu membuka peluang perdebatan sengit dalam rapat mendatang, sekaligus potensi perbedaan suara pada pertemuan kedua Kevin Warsh sebagai Ketua The Fed.
Di dalam negeri, pelaku pasar juga menanti hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) yang dijadwalkan mengumumkan keputusan suku bunga acuan pada Rabu (22/7/2026). BI telah mengerek suku bunga sebesar total 100 basis poin sejak Mei 2026, dengan kenaikan terakhir 25 bps pada 18 Juni—yang merupakan rapat darurat di luar jadwal untuk merespons tekanan terhadap rupiah. Keputusan BI pekan ini akan menjadi sinyal penting: apakah bank sentral akan kembali menaikkan suku bunga untuk menahan pelemahan rupiah, atau justru menahan diri mengingat risiko perlambatan ekonomi global.
Bagi investor dan pelaku usaha di Indonesia, pergerakan rupiah yang mendekati Rp18.000 bukan sekadar angka. Level tersebut menjadi batas psikologis yang jika ditembus dapat memicu aksi jual lebih lanjut di pasar saham dan obligasi. Tekanan terhadap rupiah juga berpotensi meningkatkan beban utang luar negeri korporasi dan memperlebar defisit transaksi berjalan. Pertanyaannya, akankah BI kembali mengintervensi pasar atau justru menaikkan suku bunga untuk menahan laju depresiasi? Jawabannya akan diketahui dalam dua hari ke depan.



