Konflik AS-Iran Memanas, Bursa Asia Tertekan: Minyak Meroket, Investor Cemas
Baca dalam 60 detik
- Pasar saham Asia dibuka bervariasi di tengah eskalasi konflik AS-Iran yang memicu kenaikan harga minyak global.
- Indeks KOSPI Korea Selatan anjlok 1,09%, sementara Australia menguat tipis; Jepang libur setelah pekan lalu ambles 4%.
- Kenaikan harga minyak Brent di atas US$91 per barel berpotensi menekan inflasi Indonesia dan memperlebar defisit APBN.

Eskalasi konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran yang kian tak terkendali membuat pelaku pasar di Asia memulai pekan ini dengan hati-hati. Sejumlah indeks saham regional bergerak mixed, namun kekhawatiran terbesar tertuju pada lonjakan harga minyak mentah yang telah menembus level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir.
Shanghai Composite Index China hanya bergerak flat di level 3.763,8, melemah 0,01%, sementara Hang Seng Hong Kong stagnan di 24.562 poin. Di kutub lain, S&P/ASX 200 Australia berhasil menguat 0,18% menjadi 8.812,2. Namun, tekanan jual cukup terasa di Korea Selatan, di mana KOSPI ambles 1,09% ke 6.746,33. Jepang libur hari ini, tetapi Nikkei 225 pekan lalu sudah jatuh lebih dari 4%—kerugian mingguan terbesar dalam setahun terakhir.
Sentimen negatif ini tidak lepas dari serangan militer AS terhadap Iran selama delapan malam berturut-turut, yang dibalas Iran dengan serangan udara ke pangkalan-pangkalan AS di kawasan. Komando Pusat AS (Centcom) mengonfirmasi tewasnya seorang prajurit ketiga, menambah daftar korban di kedua sisi. Gencatan senjata yang rapuh semakin terancam, dan pasar mulai memperhitungkan risiko gangguan pasokan minyak dari Teluk Persia.
Kenaikan harga minyak menjadi perhatian utama bagi Indonesia. Sebagai negara pengimpor minyak netto, setiap kenaikan US$5 per barel berpotensi menambah beban subsidi energi dan memperlebar defisit APBN. Analis memperkirakan, jika Brent bertahan di atas US$90 per barel, pemerintah mungkin harus merevisi asumsi makro dalam APBN 2026, terutama postur subsidi dan kompensasi energi. Di sisi lain, emiten-emiten tambang dan energi di Bursa Efek Indonesia justru bisa diuntungkan oleh sentimen ini.
“Pasar sedang menghitung ulang risiko geopolitik. Jika konflik berlanjut, minyak bisa tembus US$100 per barel dalam sebulan ke depan,” ujar seorang analis komoditas yang enggan disebutkan namanya, dikutip dari laporan riset harian. Ia menambahkan bahwa investor institusi mulai mengalihkan dana ke aset safe haven seperti emas dan dolar AS.
Pekan ini, pelaku pasar juga menanti keputusan suku bunga bank sentral utama—Federal Reserve, Bank of Japan, dan Bank Indonesia—yang bisa menambah volatilitas. Kombinasi ketegangan geopolitik dan ketidakpastian moneter membuat langkah investor semakin hati-hati. Pertanyaan besarnya: akankah eskalasi ini mereda atau justru meluas menjadi konflik regional yang lebih besar?



