Spanyol Juara Piala Dunia 2026: De la Fuente Puji Generasi Emas yang Tak Terkalahkan
Baca dalam 60 detik
- Spanyol mengalahkan Argentina 1-0 di final Piala Dunia 2026, memperpanjang rekor tak terkalahkan menjadi 38 laga.
- Pelatih Luis de la Fuente menyebut skuadnya sebagai generasi terbaik yang pernah ia latih, setelah memenangkan Euro 2024 dan Piala Dunia.
- Kemenangan ini menegaskan dominasi Spanyol di sepak bola internasional, dengan hanya kebobolan satu gol sepanjang turnamen.

Spanyol kembali menegaskan supremasi mereka di pentas sepak bola dunia. Pada final Piala Dunia 2026 yang digelar di Stadion MetLife, New Jersey, Minggu (19/7) waktu setempat, La Roja menundukkan Argentina 1-0 melalui gol Ferran Torres di babak perpanjangan waktu. Kemenangan ini sekaligus mengukuhkan status Spanyol sebagai tim paling dominan di era modern, dengan catatan tak terkalahkan dalam 38 pertandingan kompetitifโsebuah rekor yang belum pernah dicapai tim Eropa atau Amerika Selatan sebelumnya.
Bagi Luis de la Fuente, pelatih berusia 65 tahun yang kini menjadi juru taktik tertua yang memenangkan Piala Dunia, keberhasilan ini adalah puncak dari perjalanan panjang. Sejak menukangi timnas pada 2022, ia berhasil membawa Spanyol merebut gelar Euro 2024 dan kini Piala Dunia 2026. "Saya sangat bangga dengan generasi pemain ini. Mereka tumbuh dengan filosofi yang sama, setia pada prinsip, dan terus berkembang. Mereka adalah pemain kelas dunia dengan bakat luar biasa," ujar De la Fuente dalam konferensi pers usai laga.
Final kali ini berlangsung sengit. Argentina yang diperkuat Lionel Messi tampil disiplin dan mampu meredam serangan Spanyol hingga menit-menit akhir. Bahkan setelah Enzo Fernandez diganjar kartu kuning kedua pada masa injury time babak kedua, Argentina tetap bertahan kokoh. Spanyol baru bisa memecah kebuntuan pada menit ke-115 lewat sontekan Ferran Torres memanfaatkan umung silang dari sayap kiri. "Pertandingan seharusnya sudah selesai lebih awal, tapi ini final Piala Dunia. Anda harus bekerja keras bahkan melawan sepuluh pemain. Kami siap untuk apa pun," tambah De la Fuente.
Ferran Torres, yang menjadi pahlawan kemenangan, mengakui bahwa gol tersebut adalah buah dari kerja keras dan keyakinan. "Gol ini milik 47 juta rakyat Spanyol. Bukan milik saya atau 26 pemain. Ini sudah ditakdirkan terjadi," ujarnya. Torres juga mengakui bahwa menghadapi Messi membuatnya gugup, namun ia bersyukur bisa tampil baik setelah mendapat banyak kritik selama turnamen. "Saya banyak dikritik selama Piala Dunia. Terima kasih Tuhan yang selalu memberi saya kekuatan. Tuhan memberikan sesuatu kepada mereka yang pantas mendapatkannya," katanya.
Bagi Indonesia, prestasi Spanyol ini menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya konsistensi filosofi dan pembinaan jangka panjang. Timnas Spanyol yang diisi pemain-pemain lulusan akademi La Masia dan sistem sepak bola nasional yang terstruktur mampu bersaing di level tertinggi. Sementara Indonesia masih berjuang membangun fondasi sepak bola yang kokoh, kesuksesan Spanyol menunjukkan bahwa investasi pada pengembangan pemain muda dan kesabaran dalam menerapkan gaya bermain akan membuahkan hasil. Ke depan, akan menarik melihat apakah Spanyol mampu mempertahankan dominasi mereka di Piala Dunia 2030 atau justru muncul pesaing baru seperti Brasil atau Jerman yang tengah melakukan regenerasi.



