Pesta Sepak Bola dan Politik: Final Piala Dunia 2026 yang Penuh Kontroversi
Baca dalam 60 detik
- Spanyol mengalahkan Argentina lewat gol Ferran Torres di perpanjangan waktu, namun sorotan justru tertuju pada kemeriahan dan kontroversi di luar lapangan.
- Kehadiran Presiden AS Donald Trump, konser setengah babak ala Super Bowl, dan pidato Tom Cruise mewarnai final yang disebut sebagai yang paling spektakuler dalam sejarah.
- Insiden pemain Argentina yang menolak jabat tangan Trump dan kritik Wayne Rooney terhadap pertunjukan musik menjadi sorotan tajam publik.

Final Piala Dunia 2026 yang digelar di New York New Jersey Stadium pada Minggu (19/7) lalu mungkin tidak akan dikenang sebagai pertandingan sepak bola yang brilian, tetapi sebagai peristiwa yang sarat dengan gemerlap, politik, dan kontroversi. Spanyol berhasil mengamankan gelar juara dunia kedua mereka setelah mengalahkan Argentina 1-0 melalui gol Ferran Torres di babak perpanjangan waktu. Namun, di luar lapangan, sorotan justru tertuju pada kehadiran Presiden Amerika Serikat Donald Trump, konser setengah babak yang megah, dan serangkaian insiden diplomatik yang mewarnai pesta olahraga terbesar di dunia ini.
Turnamen yang digelar bersama oleh Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada ini memang telah dipenuhi dengan kejutan sejak awal. Salah satu yang paling kontroversial adalah campur tangan Trump dalam sanksi pemain. Ia mengaku telah berbicara dengan Presiden FIFA Gianni Infantino untuk meminta peninjauan kartu merah yang diterima penyerang AS, Folarin Balogun. Hasilnya, larangan bermain Balogun dicabut, memungkinkannya tampil di babak 16 besar melawan Belgia, meski akhirnya AS tersingkir. Langkah ini memicu perdebatan sengit mengenai pengaruh politik dalam sepak bola.
Trump sendiri tidak hadir dalam satu pun pertandingan sebelum final. Kedatangannya ke stadion justru menjadi tontonan tersendiri: tiga helikopter terbang melingkari stadion sebelum mendarat, dan ia duduk di samping Infantino sekitar 20 menit sebelum kick-off. Di babak pertama, ia terlihat memegang trofi Piala Dunia, menimbulkan spekulasi tentang perannya dalam upacara penyerahan trofi nanti.
Namun, yang paling menyita perhatian adalah pertunjukan setengah babak yang berlangsung selama 27 menit—terlama dalam sejarah Piala Dunia. Madonna, BTS, Coldplay, Shakira, dan Justin Bieber tampil dalam konser yang terinspirasi dari Super Bowl. Bieber bahkan membawakan versi akustik "Everything Hallelujah" setelah mendapat wejangan dari karakter fiktif Ted Lasso. Reaksi penonton beragam, namun kritik paling pedas datang dari legenda Inggris Wayne Rooney. "Saya pikir itu sampah. Pertunjukannya jelek, waktunya tidak tepat. Biarkan kami bermain sepak bola saja," ujarnya di studio Match of the Day.
Di luar gemerlap panggung, keamanan menjadi perhatian utama. Dengan kehadiran Trump, Secret Service AS mengambil alih pengamanan. Akibatnya, antrean panjang terjadi di pintu masuk stadion. Gerbang dibuka pukul 11.00 waktu setempat—empat jam sebelum kick-off—namun kebingungan akses membuat sejumlah awak media harus berputar-putar. Pemeriksaan tas juga lebih ketat dari pertandingan sebelumnya. Meski sempat terjadi kemacetan, pertandingan akhirnya dimulai tepat waktu.
Momen paling tegang terjadi saat upacara penyerahan trofi. Trump dan Infantino bersama-sama membagikan medali kepada para pemain. Namun, ketika Trump mengulurkan tangan, bek Argentina Cristian Romero berjalan melewatinya tanpa menyambut. Suara cemoohan pun terdengar dari sebagian penonton. Trump hanya bertahan sebentar di atas panggung saat pemain Spanyol mengangkat trofi, lalu pergi bersama Infantino. Insiden ini mengingatkan pada final Piala Dunia Antarklub tahun lalu, di mana Trump ikut merayakan bersama Chelsea dan enggan meninggalkan panggung.
Bagi publik Indonesia, perhelatan ini menjadi tontonan yang menarik karena menunjukkan bagaimana sepak bola dan politik semakin tak terpisahkan. Kehadiran pemain-pemain top dunia dan artis internasional juga menjadi hiburan tersendiri. Namun, pertanyaan yang mengemuka adalah: akankah FIFA mampu menjaga independensi olahraga dari intervensi politik di masa depan? Atau justru kita akan menyaksikan lebih banyak lagi momen kontroversial seperti ini di Piala Dunia mendatang?



