Argentina Gagal Juara Piala Dunia 2026: Akhir dari Era Messi?
Baca dalam 60 detik
- Kekalahan 0-1 dari Spanyol di final Piala Dunia 2026 memupus harapan Argentina menjadi juara bertahan, sekaligus menandai kemungkinan pensiunnya Lionel Messi dari panggung internasional.
- Kemenangan atas Inggris di semifinal menjadi pelipur lara bagi publik Argentina, mengingat rivalitas historis kedua negara sejak Perang Falklands dan insiden 'Tangan Tuhan'.
- Perayaan suporter di Buenos Aires kali ini jauh lebih sunyi dibanding euforia 2022, namun optimisme terhadap regenerasi tim tetap muncul di tengah kekalahan.

Kekalahan Argentina dari Spanyol dengan skor 1-0 di final Piala Dunia 2026 tidak hanya mengubur ambisi menjadi juara bertahan, tetapi juga menandai titik akhir perjalanan Lionel Messi di turnamen akbar. Gol di babak perpanjangan waktu yang dicetak Spanyol memupus harapan jutaan pendukung yang memadati jalan-jalan Buenos Aires, Minggu malam (19/7) waktu setempat.
Sejak awal turnamen, publik Argentina sebenarnya tidak berani bermimpi terlalu tinggi. Hanya Italia (1934 dan 1938) serta Brasil (1958 dan 1962) yang pernah meraih gelar juara dunia dua kali berturut-turut. Namun, penampilan meyakinkan di fase gugur—mengalahkan Tanjung Verde, Mesir, dan Swiss—membuat ekspektasi melambung. Kekalahan di final menjadi pukulan telak, terutama karena ini mungkin menjadi Piala Dunia terakhir bagi Messi yang kini berusia 39 tahun.
Meski demikian, kemenangan atas Inggris di semifinal menjadi momen yang tak terlupakan. Pertandingan itu sarat muatan sejarah, mulai dari kemenangan Inggris di Piala Dunia 1966, gol kontroversial 'Tangan Tuhan' Diego Maradona pada 1986, hingga Perang Falklands (Malvinas) 1982. Selepas laga, para pemain Argentina mengibarkan spanduk bertuliskan 'Las Malvinas Son Argentinas' (Kepulauan Falkland adalah milik Argentina).
Bagi sebagian warga Argentina, kemenangan atas Inggris sudah cukup memuaskan. "Tentu rasanya pahit, tapi kami tetap mengalahkan Inggris, Messi sebelumnya belum pernah melakukannya," ujar Ornella Godoy, 24 tahun, yang bekerja di bidang publisitas. Messi memang belum pernah bermain melawan Inggris sepanjang kariernya. Sementara itu, Fernanda Ramayon, seorang psikolog, tetap bersyukur timnya bisa mencapai final. "Saya akui Spanyol bermain sangat baik. Saya tetap senang," katanya.
Suasana di Buenos Aires kontras dengan perayaan kemenangan Piala Dunia 2022. Saat itu, lebih dari satu juta orang memenuhi pusat kota, dan Messi serta rekan setimnya harus diangkut helikopter untuk bergabung dalam pesta jalanan terbesar dalam sejarah Argentina. Kini, hanya ribuan orang berkumpul di sekitar Monumen Obelisk dengan kembang api yang lebih redup. Harian La Nacion menulis judul "Ini adalah akhir dari mimpi" di samping foto Messi yang tertunduk lesu.
Kekalahan Argentina ini menjadi pengingat betapa tipisnya jarak antara sukses dan kegagalan di panggung tertinggi sepak bola. Bagi Indonesia, yang tengah giat mengembangkan sepak bola nasional, perjalanan Argentina—dari juara dunia hingga kehilangan gelar—menawarkan pelajaran tentang pentingnya regenerasi dan manajemen ekspektasi. Apakah Argentina mampu bangkit tanpa Messi, atau justru akan terpuruk seperti yang dialami beberapa negara pasca-era emas? Jawabannya baru akan terlihat pada Piala Dunia 2030.



