Spanyol Hajar Argentina di Final Piala Dunia 2026: Kemenangan Sepak Bola Sejati
Baca dalam 60 detik
- Spanyol mengalahkan Argentina 1-0 di final Piala Dunia 2026 melalui gol Ferran Torres di babak perpanjangan waktu, sekaligus menegaskan dominasi mereka sebagai juara dunia, Olimpiade, dan Eropa.
- Argentina tampil dengan pendekatan negatif, hanya melepaskan satu tembakan sepanjang pertandingan, dan diwarnai kartu merah Enzo Fernandez serta aksi ricuh usai laga.
- Kemenangan ini memperkuat posisi Spanyol sebagai kekuatan sepak bola global, dengan rekor tak terkalahkan 38 laga dan pertahanan terbaik sepanjang sejarah Piala Dunia.

Spanyol memastikan diri sebagai penguasa sepak bola dunia setelah menundukkan Argentina 1-0 di final Piala Dunia 2026 yang berlangsung di Stadion MetLife, New Jersey, pada Minggu (19/7) waktu setempat. Gol semata wayang Ferran Torres pada menit ke-106 babak perpanjangan waktu tidak hanya mengantar La Furia Roja meraih gelar kedua mereka, tetapi juga menjadi simbol kemenangan gaya bermain menyerang atas taktik pragmatis yang diusung juara bertahan.
Sepanjang 120 menit, Spanyol mendominasi penguasaan bola hingga 65 persen, melepaskan 20 tembakan dengan 11 tepat sasaran. Sebaliknya, Argentina—yang dikenal dengan pendekatan fisik dan provokatif—hanya mampu mencatatkan satu percobaan ke gawang, itupun melalui tendangan Lionel Messi di menit ke-117. Kiper Spanyol Unai Simon tampil gemilang dengan mencatatkan clean sheet ketujuh dalam delapan pertandingan, sekaligus memastikan dirinya meraih Golden Glove sebagai kiper terbaik turnamen.
Pertandingan ini tidak hanya menjadi ajang pembuktian kualitas teknis, tetapi juga memicu perdebatan tentang etika bermain. Argentina, yang sejak semifinal melawan Inggris sudah mendapat kritik karena pendekatan destruktif, kembali tampil dengan pola serupa. Empat pemain mereka mendapat kartu kuning, dan puncaknya adalah kartu merah Enzo Fernandez pada menit ke-90 akibat tekel keras yang membuat bek Spanyol Pau Cubarsi terpelanting. Usai laga, kericuhan terjadi ketika Leandro Paredes terlibat cekcok dengan beberapa pemain Spanyol, dan Nahuel Molina terlihat melayangkan pukulan ke arah lawan.
Mantan kapten Inggris Alan Shearer, yang menjadi komentator BBC, menegaskan bahwa tim terbaiklah yang memenangi pertandingan ini. “Spanyol mengontrol permainan sejak awal, mereka selalu berusaha bermain sepak bola, menciptakan peluang. Ini adalah kemenangan untuk sepak bola,” ujarnya. Senada dengan Shearer, legenda Manchester United Wayne Rooney menyebut perilaku Argentina setelah peluit akhir sebagai “memalukan” dan tidak pantas ditiru.
Pelatih Argentina Lionel Scaloni, dalam konferensi pers usai laga, mengakui keunggulan Spanyol meski berusaha membela anak asuhnya. “Mereka layak menang, itu kenyataan. Saya hanya ingin tahu apa yang akan terjadi jika kami masih bermain dengan 11 pemain,” katanya sambil menahan air mata.
“Argentina tidak punya alasan untuk mengeluh. Perilaku mereka menjijikkan.” — Joe Hart, mantan kiper Inggris.
Bagi Spanyol, kemenangan ini menegaskan status mereka sebagai kekuatan dominan di pentas internasional. Selain menjadi juara dunia, mereka juga memegang gelar Olimpiade, Eropa, dan Piala Dunia wanita. Tim asuhan Luis de la Fuente kini tak terkalahkan dalam 38 pertandingan terakhir—rekor terpanjang bagi tim Eropa. Pemain muda seperti Pau Cubarsi (19 tahun) yang dinobatkan sebagai pemain muda terbaik turnamen, dan Lamine Yamal yang menjadi pemain termuda ketiga yang tampil di final Piala Dunia, menjadi bukti bahwa generasi emas Spanyol masih akan bersinar dalam waktu lama.
Bagi Indonesia, keberhasilan Spanyol ini bisa menjadi inspirasi bagi pengembangan sepak bola nasional. Pendekatan berbasis penguasaan bola dan pembinaan pemain muda yang konsisten—seperti yang dilakukan La Masia—menjadi resep yang patut ditiru. Di tengah hiruk-pikuk persiapan Piala Dunia U-20 2027, pelajaran dari final ini adalah bahwa sepak bola indah pada akhirnya akan menuai hasil, asalkan ada kesabaran dan sistem yang kokoh.
Pertanyaan besarnya kini: mampukah Argentina bangkit dari keterpurukan ini, atau justru akan semakin terpuruk dalam permainan keras yang kontraproduktif? Sementara itu, Spanyol telah menancapkan tonggak baru—bahwa sepak bola sejati adalah tentang kreativitas, bukan sekadar menghalau lawan.



