Protes Pembalap Tour de France: Tes Doping Tengah Malam Dinilai Ganggu Istirahat dan Picu Kecelakaan
Baca dalam 60 detik
- Pembalap papan atas Tour de France seperti Pogacar dan Vingegaard mengeluh tes doping dadakan pada pukul 2-5 dini hari mengganggu kualitas tidur dan performa.
- Vingegaard mengalami patah tulang selangka setelah kecelakaan di etape 15; Pogacar menduga kurang tidur akibat tes menjadi faktor pemicu.
- ITA membela prosedur dengan alasan efektivitas pengujian, namun para pembalap menilai praktik ini tidak manusiawi dan perlu dievaluasi.

Gelaran Tour de France 2024 diwarnai protes keras dari para pembalap elit setelah tes doping tanpa pemberitahuan dilakukan pada dini hari, mengganggu waktu istirahat yang krusial. Pemimpin klasemen Tadej Pogacar dan rivalnya Jonas Vingegaard menjadi korban praktik yang dinilai tidak manusiawi ini, bahkan dikaitkan dengan kecelakaan serius yang memaksa Vingegaard mundur dari perlombaan.
Vingegaard, yang saat itu berada di posisi kedua klasemen umum, terbangun pada pukul 2 dini hari oleh petugas tes. Butuh waktu sekitar 40 menit baginya untuk kembali ke kamar, sehingga ia hanya mendapat sedikit waktu tidur. “Tentu saja tes itu baik, tetapi jika mengganggu performa dan tidur, saya rasa itu tidak baik,” ujarnya sebelum etape 15 dimulai. Pada etape tersebut, Vingegaard mengalami kecelakaan hebat sekitar 20 km dari finis dan harus menjalani operasi akibat patah tulang selangka yang parah.
Pogacar, yang diuji pada pukul 5 pagi, hanya tidur empat jam. “Saya tidak bisa tidur lagi setelah dibangunkan. Ini benar-benar tidak menyenangkan,” keluhnya. Ia bahkan menduga bahwa kurang tidur akibat tes bisa menjadi salah satu faktor yang berkontribusi pada kecelakaan Vingegaard. “Mungkin ini juga konsekuensi dari kurang tidur,” kata Pogacar dalam konferensi pers usai etape.
Pembalap Belgia Remco Evenepoel, yang memenangi etape 15, mengecam keras tes malam hari. “Ini sesuatu yang seharusnya tidak kami terima sebagai pembalap. Membangunkan kami di tengah malam sungguh tidak manusiawi,” tegasnya. Evenepoel menambahkan bahwa para pembalap merasa tidak dihormati oleh prosedur yang diterapkan International Testing Agency (ITA).
Menanggapi kritik, ITA menyadari bahwa tes malam hari dapat mengganggu istirahat dan pemulihan pembalap. Namun, lembaga tersebut menyatakan bahwa pengujian efektif harus, dalam keadaan terbatas dan beralasan, dapat dilakukan di luar jam kerja normal. “Pertimbangan telah diberikan untuk meminimalkan dampak terhadap pembalap,” demikian pernyataan ITA.
Bagi pengamat olahraga di Indonesia, polemik ini menyoroti dilema antara upaya menjaga integritas kompetisi melalui pengawasan ketat dan hak atlet atas istirahat yang layak. Di tengah gencarnya kampanye anti-doping global, kasus ini menjadi pengingat bahwa kesejahteraan atlet tidak boleh dikorbankan demi prosedur. Ke depan, perlu ada keseimbangan antara deteksi pelanggaran dan perlindungan kesehatan fisik serta mental para pembalap.
Pertanyaan yang mengemuka: akankah ITA merevisi jadwal tes atau justru memperketat aturan setelah insiden ini? Sementara para pembalap bersatu menyuarakan ketidakpuasan, tekanan publik mungkin akan memaksa badan anti-doping untuk mengevaluasi kembali pendekatan mereka.



