Skandal The Open: Scottie Scheffler Bela Bryson DeChambeau, Tegaskan Bukan Curang
Baca dalam 60 detik
- Bryson DeChambeau mendapat hukuman dua pukulan karena dianggap memperbaiki jalur ayunan secara tidak sengaja di The Open, memicu perdebatan sengit soal etika golf.
- Petenis nomor satu dunia Scottie Scheffler, yang bermain bersama DeChambeau saat insiden, membela rekannya dan menolak tuduhan kecurangan.
- Kontroversi ini menyoroti ketegangan antara aturan ketat golf dan interpretasi pemain, serta memicu diskusi tentang perlunya penegakan yang lebih konsisten.

Kontroversi aturan di ajang The Open pekan lalu masih menjadi perbincangan hangat, terutama setelah petenis nomor satu dunia Scottie Scheffler angkat bicara membela rekannya, Bryson DeChambeau, yang dijatuhi hukuman dua pukulan karena dianggap melanggar aturan. Scheffler dengan tegas menyatakan bahwa DeChambeau "bukanlah seorang cheater" dan menilai insiden tersebut lebih merupakan kecerobohan daripada pelanggaran yang disengaja.
Insiden terjadi pada putaran kedua Jumat lalu di hole kelima. DeChambeau dinyatakan melanggar aturan karena menginjak-injak rumput tinggi setinggi lutut di belakang bolanya, yang dinilai secara tidak sengaja memperbaiki jalur ayunan. Pejabat R&A, penyelenggara The Open, menegaskan bahwa tindakan DeChambeau tidak disengaja, tetapi aturan tetap berlaku. Akibatnya, skor 66 yang semula membuatnya tertinggal satu pukulan dari pimpinan klasemen berubah menjadi 68, dan ia harus puas finis enam pukulan di belakang juara Ryan Fox.
DeChambeau, yang tidak berbicara kepada media sepanjang turnamen, merasa diperlakukan tidak adil. Bahkan, sempat muncul keraguan apakah ia akan melanjutkan turnamen. Namun, ia kemudian menyatakan bahwa hukuman itu justru akan "memacu" dirinya di akhir pekan. Sayangnya, performanya di putaran ketiga dan keempat (69 dan 72) tidak cukup untuk mengejar ketertinggalan.
Scheffler, yang bermain bersama DeChambeau saat insiden terjadi, memberikan perspektif berbeda. "Saya tidak pernah melihatnya berbuat curang sekali pun, baik dalam kontes putting atau chipping, atau kapan pun kami bermain golf amatir. Saya tidak pernah melihat hal yang mencurigakan," ujar Scheffler. Ia menambahkan bahwa sudut kamera mungkin membuat insiden tampak lebih buruk dari kenyataan, dan DeChambeau hanya "sedikit ceroboh" di sekitar bolanya.
Di sisi lain, petenis asal Irlandia Utara, Rory McIlroy, yang mengaku "tidak suka" dengan DeChambeau, justru mendukung keputusan wasit. McIlroy mengatakan "tidak ada keraguan" bahwa DeChambeau telah memperbaiki garis backswing-nya, dan bahkan menuduh rivalnya itu menyandera turnamen. Pernyataan McIlroy ini menambah ketegangan yang sudah memanas di kalangan pegolf profesional.
Meskipun mendapat sorakan hangat dari penonton Birkdale saat turun di putaran ketiga, beberapa teriakan "cheat" masih terdengar. Scheffler menolak keras tuduhan tersebut. "Yang bisa saya katakan, saya sudah mengenalnya lama. Dia banyak hal, tapi dia pasti bukan seorang cheater," tegas Scheffler, yang juga merupakan juara The Open 2025.
Bagi pegolf Indonesia, kontroversi ini menjadi pelajaran penting tentang pentingnya memahami aturan dengan saksama, terutama di area rough yang sulit. Di lapangan golf Indonesia yang kerap memiliki rumput tebal, insiden serupa bisa saja terjadi. Para pegolf amatir dan profesional di Tanah Air perlu lebih berhati-hati dalam menjaga kondisi lapangan agar tidak terkena penalti yang tidak diinginkan.
Ke depannya, kasus ini membuka kembali perdebatan tentang keseimbangan antara tradisi golf dan penegakan aturan yang ketat. Scheffler sendiri mengusulkan agar golf kembali ke tradisi dan mungkin perlu pengawasan yang lebih ketat. Pertanyaannya, apakah R&A dan badan golf lainnya akan merevisi aturan atau justru memperketat penerapannya? Hingga saat ini, belum ada keputusan resmi, namun diskusi di kalangan pegolf profesional dipastikan akan terus berlanjut.



