300 Ribu Pasang Mata Siap Saksikan Final Piala Dunia 2026 di Kuala Lumpur
Baca dalam 60 detik
- Final Piala Dunia 2026 antara Spanyol dan Argentina diprediksi menyedot lebih dari 300.000 penonton di Kuala Lumpur, menjadikannya salah satu nobar terbesar di Asia Tenggara.
- Dataran Merdeka menjadi episentrum keramaian dengan layar raksasa dan konser pra-pertandingan yang dimulai sejak Minggu sore, menarik minat penggemar dari berbagai penjuru.
- Euforia serupa diperkirakan terjadi di kota-kota besar Indonesia, mengingat basis penggemar sepak bola yang besar dan tradisi nonton bareng yang sudah mengakar.

KUALA LUMPUR โ Gelaran final Piala Dunia 2026 antara Spanyol dan Argentina yang berlangsung Senin (20/7) dini hari menjelma menjadi pesta rakyat di Malaysia. Lebih dari 300.000 orang diperkirakan memadati Dataran Merdeka dan sekitarnya untuk menyaksikan laga pamungkas melalui layar raksasa, menjadikannya salah satu acara nonton bareng (nobar) terbesar di Asia Tenggara tahun ini.
Sejak Minggu sore, ribuan penggemar mulai berdatangan dengan mengenakan kostum kebanggaan masing-masing. Sebagian besar membawa tenda dan tikar piknik untuk mengamankan tempat duduk terbaik di area yang telah disediakan panitia. Suasana semakin meriah dengan adanya konser pra-pertandingan yang menampilkan deretan musisi lokal seperti Datuk Yusry Halim, Shiha Zikir, dan Nabila Razali, yang berlangsung hingga pukul 01.00 waktu setempat.
Antusiasme tidak hanya datang dari warga Kuala Lumpur. Khairul Anuar, seorang sopir pribadi berusia 42 tahun, rela datang dari Damansara bersama keluarganya sejak pukul 17.00 untuk menghindari kemacetan. โSaya ingin menyaksikan sejarah, Messi mengangkat trofi kedua secara beruntun,โ ujarnya. Sementara itu, editor visual Ikram Daud (36) yang datang dari Ampang bersama kekasihnya mengaku memilih venue terbesar untuk merasakan energi massa. โKami penggemar Spanyol, dan nonton di tempat sebesar ini membuat pengalaman semakin istimewa,โ katanya.
Fenomena nobar massal seperti ini bukan hanya terjadi di Malaysia. Di Indonesia, tradisi menonton bersama pertandingan besar, terutama final Piala Dunia, sudah menjadi budaya yang mengakar. Kota-kota seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Yogyakarta biasanya menjadi pusat keramaian dengan layar-layar raksasa di alun-alun atau mal. Antusiasme terhadap laga Spanyol vs Argentina diprediksi akan menyedot perhatian jutaan pasang mata di Indonesia, mengingat basis penggemar kedua tim yang besar di dalam negeri.
Menurut pengamat sepak bola dari Universitas Indonesia, Andi Surya, euforia serupa di Indonesia bisa menjadi peluang bagi sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) seperti penjual makanan dan minuman, serta penyedia jasa transportasi daring. โNobar skala besar selalu mendongkrak ekonomi lokal. Namun, perlu diingat juga potensi kemacetan dan sampah yang harus diantisipasi,โ ujarnya. Ia menambahkan bahwa pemerintah daerah sebaiknya menyediakan lokasi nobar resmi untuk mengendalikan kerumunan dan menjaga ketertiban.
Dengan dimulainya pertandingan pada pukul 02.00 WIB, banyak penggemar di Indonesia yang rela begadang atau menggelar acara nobar di rumah-rumah. Media sosial pun diprediksi akan ramai dengan komentar dan reaksi langsung sepanjang laga. Pertanyaan besarnya, akankah tradisi nobar di Indonesia bisa mencapai skala dan keteraturan seperti yang terlihat di Dataran Merdeka tahun ini?



