Final Piala Dunia 2026: Spanyol vs Argentina, Pertarungan Taktik dan Mental Juara
Baca dalam 60 detik
- Mantan pelatih Spanyol, Julen Lopetegui, menilai pressing terhadap Spanyol lebih sulit dalam praktik daripada teori karena kemampuan kolektif dan individu pemainnya.
- Spanyol datang ke final setelah menekuk Prancis 2-0, sementara Argentina mengandalkan evolusi Lionel Messi yang kini berusia 39 tahun sebagai playmaker.
- Lopetegui memprediksi pertandingan akan ditentukan oleh ketahanan mental dan kemampuan kedua tim memanfaatkan celah lawan.

Julen Lopetegui, pelatih Qatar di Piala Dunia 2026 sekaligus mantan arsitek timnas Spanyol, memberikan pandangan tajam menjelang partai puncak antara Spanyol dan Argentina. Menurutnya, meski secara teori pressing tinggi bisa menjadi senjata untuk meredam permainan Spanyol, dalam praktiknya lawan justru kerap terjebak dalam permainan umpan-umpan pendek yang memusingkan.
Lopetegui mengingat pertemuan terakhir kedua tim pada 2018, saat Spanyol menghancurkan Argentina 6-1 di Madrid. Kala itu, Lionel Messi absen dan Spanyol mampu menutup ruang di lini tengah serta menekan tinggi sejak menit awal. Namun, ia menegaskan bahwa laga final nanti tidak bisa disamakan dengan laga persahabatan. “Ini final Piala Dunia, bukan sekadar uji coba,” ujarnya.
Spanyol lolos ke final setelah menundukkan Prancis 2-0 di semifinal. Dalam laga itu, tim asuhan Luis de la Fuente berhasil membuat lini serang Prancis frustrasi—sampai menit ke-80, Prancis tidak melepaskan satu pun tembakan tepat sasaran. Para pemain Prancis sempat mengeluh seharusnya mereka menekan lebih tinggi dan lebih keras. Namun, Lopetegui menilai rencana itu lebih mudah digambar di papan taktik daripada dijalankan di lapangan.
“Teorinya sederhana, tapi menekan tim seperti Spanyol tidaklah mudah, terutama karena kemampuan kolektif mereka dalam membaca permainan,” kata Lopetegui. Ia menjelaskan bahwa pressing bukan hanya soal menekan satu atau dua pemain, melainkan harus mampu menekan banyak calon penerima bola pada momen, ruang, dan waktu yang tepat. Lebih dari itu, pemain Spanyol memiliki kemampuan individu untuk keluar dari tekanan—sesuatu yang tidak dimiliki banyak pemain lain.
Kedua finalis, menurut Lopetegui, sama-sama menginginkan penguasaan bola dan memiliki pemain yang nyaman mengatur ritme pertandingan. Namun, Spanyol unggul dalam membangun serangan dari belakang dengan tenang. “Melawan tim yang ingin menguasai bola seperti Spanyol, lawan secara alami akan menekan, tapi itu juga menjadi peluang bagi Spanyol untuk menemukan lebih banyak ruang,” ujarnya. Ia menganalogikan dengan selimut: “Selimut menutupi kaki, tapi kadang kepala terbuka, bukan?”
Lopetegui menyoroti lini belakang Spanyol yang tenang, mampu memulai serangan dengan bersih, dan menemukan umpan yang mengubah tekanan menjadi gol. Sementara Argentina juga memiliki banyak pemain tengah yang bisa menjaga penguasaan bola. Namun, ia percaya pertandingan bisa ditentukan oleh faktor yang kurang elegan: mental juara. “Kekuatan utama kedua tim adalah mereka sangat kompetitif. Saat didorong ke batas, mereka biasanya merespons dengan baik,” katanya.
Argentina mengandalkan evolusi Messi yang kini berusia 39 tahun. Menurut Lopetegui, Messi telah mengembangkan kualitas baru, seperti membuat rekan setimnya bermain lebih baik dan mengoptimalkan pergerakannya ke kotak penalti. “Versi Messi yang berevolusi ini adalah pemain yang berbeda, dan tim nasional mungkin bermain berbeda untuk memaksimalkan kekuatannya.” Sebaliknya, ancaman Spanyol tersebar di seluruh lapangan. Lopetegui menyebut Pedro Porro, Cucurella, Fabian Ruiz, Mikel Merino, dan Pau Cubarsi sebagai pemain yang bisa menjadi pusat serangan kapan saja. “Ini tim di mana bukan hanya penyerang yang menyerang, tapi seluruh tim, sama seperti seluruh tim bertahan.”
Bagi Indonesia, pertandingan ini menjadi tontonan menarik karena kedua tim menampilkan filosofi sepak bola yang kontras: Spanyol dengan penguasaan bola dan pressing kolektif, Argentina dengan transisi cepat dan kejeniusan individu. Pelajaran taktik dari Lopetegui bisa menjadi referensi bagi pengembangan sepak bola nasional, terutama dalam hal membangun permainan dari belakang dan menghadapi tekanan tinggi. Pertanyaannya, mampukah Argentina memanfaatkan celah di balik pressing Spanyol, atau justru Spanyol yang akan mengekspos kelemahan Argentina melalui sirkulasi bola tanpa henti?



