Piala Dunia 2026 Jadi Cermin: Sepak Bola Italia Makin Tertinggal
Baca dalam 60 detik
- Hanya dua pemain Serie A tampil di final Piala Dunia 2026, menandakan merosotnya daya saing klub-klub Italia di kancah global.
- Klub-klub besar seperti Juventus, Inter Milan, dan Roma disebut lamban di bursa transfer, berpotensi menghadapi musim sulit.
- Como menjadi pengecualian dengan pendekatan transfer yang terencana, sementara klub lain masih bergulat dengan keterbatasan finansial.

Hanya dua pemain Serie A yang berlaga di partai puncak Piala Dunia 2026—sebuah fakta yang menurut mantan gelandang Juventus, Massimo Mauro, menjadi indikator nyata betapa sepak bola Italia tengah terpuruk. Dalam wawancara dengan La Gazzetta dello Sport, Mauro menilai minimnya representasi pemain Italia di laga final menunjukkan bahwa sepak bola Negeri Pizza, baik di level klub maupun tim nasional, sedang kehilangan pamor di panggung dunia.
Dua pemain Serie A yang tampil di final adalah Lautaro Martinez dan Nico Paz, keduanya dari Inter Milan. Namun, Mauro mencatat bahwa kontribusi mereka minim. “Lautaro dan Nico Paz nyaris tidak bermain. Andai bukan karena gol penentu Lautaro di semifinal, hasilnya akan menjadi bencana,” ujarnya. Situasi ini makin memprihatinkan mengingat Italia sendiri gagal lolos ke turnamen. Menurut Mauro, kondisi itu cermin dari kesulitan yang dihadapi klub-klub Italia dalam bersaing di level tertinggi.
Mauro kemudian mengupas satu per satu kondisi klub-klub besar Italia. Inter Milan, misalnya, dinilai terlalu pasif di bursa transfer. “Mereka masih menunggu, belum mendatangkan pengganti Dumfries atau tambahan bek lain. Mereka dalam masalah,” tegasnya. Juventus juga tak luput dari kritik. Mauro menyebut klub asal Turin itu terlambat bergerak, terutama dalam urusan Vlahovic yang belum jelas masa depannya. Ia juga menyindir cara kerja direktur klub yang dinilai kurang maksimal, termasuk Zlatan Ibrahimovic yang disebutnya bekerja jarak jauh.
Roma menjadi contoh lain. Gagal mendatangkan Mason Greenwood dan Crysencio Summerville, klub ibu kota itu belum juga merekrut bintang baru. “Ini menunjukkan kesulitan umum. Klub Italia bahkan kesulitan merekrut pemain lapis kedua,” kata Mauro. Sementara itu, AC Milan setidaknya sudah mendatangkan dua pemain, yaitu Gila dan Ramos. Namun Mauro meragukan Ramos yang bukan starter di PSG. “Mereka berharap Ramos bisa seperti Giroud, yang dulu juga bukan pilihan utama di Inggris. Tapi itu tidak mudah,” ujarnya.
Di tengah suramnya potret klub-klub besar, Mauro justru memuji Como. Klub promosi itu dinilainya memiliki pendekatan hampir ilmiah dalam berburu pemain. “Mereka duduk bersama, memilih pemain yang sesuai kebutuhan Fabregas, dan benar-benar bisa mendatangkannya. Liberali, misalnya, punya teknik bagus dan bisa menjadi winger andalan,” puji Mauro. Como disebutnya sebagai contoh bagaimana klub kecil bisa bersaing dengan perencanaan matang.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, kondisi ini memberikan pelajaran berharga. Ketergantungan pada pemain asing tanpa pembinaan pemain lokal yang kuat hanya akan membuat liga kehilangan identitas. Di Indonesia, Liga 1 juga menghadapi tantangan serupa: minimnya talenta lokal yang bersaing di level Asia. Jika klub-klub Italia saja kesulitan, apalagi klub Indonesia yang memiliki sumber daya lebih terbatas. Mauro mengingatkan bahwa investasi pada pelatih dan perencanaan jangka panjang adalah kunci, seperti yang dilakukan Como.
Menjelang dimulainya musim 2026-27 yang tinggal sebulan lagi, Mauro mendesak Juventus, Inter, dan Roma untuk segera bergerak. “Tanpa cedera, Napoli punya staf yang bagus. Como juga akan tampil baik. Tapi yang lain harus cepat bertindak,” pungkasnya. Pertanyaannya, akankah klub-klub besar Italia mampu bangkit, atau justru semakin tenggelam dalam persaingan global yang makin ketat?



