Andrew Tate dan Sang Adik Ditangkap di Miami, Inggris Ajukan Ekstradisi
Baca dalam 60 detik
- Andrew dan Tristan Tate ditangkap US Marshals di Miami atas permintaan Inggris yang mengajukan ekstradisi terkait tuduhan pemerkosaan dan perdagangan seks.
- Kepala Divisi Kejahatan Khusus CPS menyebut total korban dalam kasus ini kini mencapai tujuh orang setelah adanya bukti baru dari Kepolisian Bedfordshire.
- Kasus ini menambah daftar panjang masalah hukum yang dihadapi Tate bersaudara, termasuk penyelidikan di Florida dan tuduhan di Rumania.

Andrew Tate, influencer kontroversial yang dikenal sebagai tokoh utama gerakan 'manosphere', bersama adiknya Tristan ditangkap oleh US Marshals di Miami, Sabtu (18/7). Penangkapan ini dilakukan atas permintaan Inggris yang tengah mengupayakan ekstradisi keduanya untuk menghadapi dakwaan baru terkait pemerkosaan, perdagangan seks, dan penyerangan.
US Marshals mengonfirmasi penangkapan Andrew Tate (39) dan Tristan, namun menolak merinci tuduhan karena surat perintah penangkapan masih disegel. TMZ merilis video yang memperlihatkan kedua pria itu diborgol dan digiring ke kendaraan. Saat ditanya oleh seorang pengamat, Tristan Tate memilih bungkam.
Malcolm McHaffie, Kepala Divisi Kejahatan Khusus Crown Prosecution Service (CPS), menyatakan bahwa pihaknya telah memutuskan untuk menuntut Tate bersaudara atas sejumlah pelanggaran baru, termasuk pemerkosaan, memfasilitasi perdagangan seksual, dan pelanggaran terkait gambar cabul anak. "CPS telah meminta ekstradisi Tates dari AS," ujarnya. McHaffie menambahkan bahwa bukti baru dari Kepolisian Bedfordshire membuat total korban dalam kasus ini menjadi tujuh orang.
Sebelumnya, Kepolisian Hertfordshire telah membuka kembali penyelidikan atas tuduhan pemerkosaan dan penyerangan seksual yang dilayangkan oleh sejumlah perempuan terhadap Andrew Tate antara 2014 dan 2015. Sementara itu, Kepolisian Bedfordshire menyelidiki tuduhan pemerkosaan dan perdagangan manusia yang terpisah. Kedua bersaudara itu juga dituduh melakukan penggelapan pajak dan pencucian uang di Inggris. Mereka membantah semua tuduhan tersebut.
Andrew Tate dikenal sebagai salah satu pendukung paling vokal dari gerakan 'manosphere', sebuah jaringan komunitas daring yang mempromosikan maskulinitas tradisional, anti-feminisme, dan pengembangan diri. Dengan 10,8 juta pengikut di X, ia kerap menyebarkan pandangan misoginis dan tema 'alpha-male'. Kasus ini menjadi sorotan global karena pengaruh besarnya di media sosial.
Bagi Indonesia, kasus ini menjadi pengingat akan bahaya konten misoginis yang menyebar luas di platform digital. Meskipun Tate tidak memiliki basis penggemar sebesar di negara Barat, pengaruhnya tetap terasa di kalangan tertentu. Pemerintah Indonesia perlu mewaspadai penyebaran ideologi serupa yang dapat memicu diskriminasi gender dan kekerasan terhadap perempuan. Regulasi konten digital yang lebih ketat mungkin diperlukan untuk membatasi dampak negatif dari figur seperti Tate.
Ke depan, proses ekstradisi Tate bersaudara ke Inggris akan menjadi ujian bagi kerja sama hukum antara AS dan Inggris. Jika berhasil, kasus ini bisa menjadi preseden bagi penegakan hukum lintas batas terhadap kejahatan seksual yang dilakukan oleh figur publik. Pertanyaan besarnya: mampukah sistem peradilan menjerat mereka di tengah popularitas dan kekayaan yang mereka miliki?



