Kekalahan Telak dari Afrika Selatan: Wales Terpuruk di Peringkat 12, Krisis Identitas Permainan Mengemuka
Baca dalam 60 detik
- Wales menutup musim 2025-26 dengan kekalahan 43-0 dari Afrika Selatan di Durban, menjadi kekalahan kesembilan dalam 12 laga internasional di bawah pelatih Steve Tandy.
- Agregat skor 116-0 dalam dua pertemuan terakhir melawan Springboks menunjukkan kesenjangan kelas yang semakin lebar, dengan Wales gagal mencetak poin dalam 160 menit pertandingan.
- Tanpa identitas permainan yang jelas dan masalah fisik yang akut, Wales menghadapi tantangan berat untuk bersaing dengan tim papan atas, sementara peluang bangkit di Nations Championship November mendatang masih diragukan.

Kekalahan 43-0 yang diderita Wales dari Afrika Selatan di Stadion Kings Park, Durban, akhir pekan lalu bukan sekadar angka di papan skor. Ini adalah alarm keras bagi rugby Wales yang tengah berjuang mencari jati diri. Dalam dua pertemuan terakhir, agregat skor 116-0 tanpa satu poin pun dari Wales menjadi bukti betapa lebarnya jurang antara tim peringkat 12 dunia dengan juara bertahan Piala Dunia.
Musim 2025-26 yang panjang berakhir dengan sembilan kekalahan dari 12 laga uji coba. Satu-satunya kemenangan diraih melawan tim-tim yang berada tepat di atas mereka dalam peringkat dunia: Italia, Fiji, dan Jepang. Namun, saat berhadapan dengan lawan sekelas Afrika Selatan, Argentina, atau bahkan Inggris dan Skotlandia yang musim panas ini sukses menaklukkan Argentina, Wales seperti kehilangan pijakan.
Pelatih Steve Tandy, yang mengambil alih setahun lalu, masih optimistis. Ia melihat "tunas-tunas hijau" dan konsistensi yang mulai terbentuk. Namun, kritik pedas datang dari para mantan pemain. Scott Baldwin, mantan hooker Wales, menyatakan kekalahan di Durban terasa lebih datar dibandingkan kekalahan 73-0 di Cardiff pada November lalu. "Kami memiliki hampir semua pemain inti, sementara Afrika Selatan tidak menurunkan tim terkuat mereka. Namun, kami justru tampil mundur," ujarnya kepada BBC Radio Wales.
Masalah Wales tidak hanya pada fisik dan pertahanan. Identitas permainan menjadi sorotan utama. James Hook, mantan fly-half Wales, membandingkan dengan Skotlandia yang memiliki pola permainan jelas: melebar dan mengandalkan Sione Tuipulotu sebagai pembawa bola ke depan. "Wales terlihat tidak tahu apa yang mereka lakukan. Saat memiliki bola, semua pemain lari satu arah, tidak ada variasi," kritik Hook. Mantan center Jonathan Davies pun menyerukan agar Eddie James, pemain bertubuh kekar, ditempatkan sebagai inside center untuk menambah daya gedor.
Pelatih Tandy membela serangan timnya dengan merujuk pada sembilan try yang dicetak dalam dua laga sebelumnya. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan sebaliknya. Saat menghadapi Afrika Selatan, Wales tidak mampu menembus pertahanan lawan. Masalah ini diperparah dengan kegagalan dalam hal fisik: scrum yang sebelumnya dipuji hancur berantakan, dan pertahanan yang rapuh dengan rata-rata 35 tekel meleset per pertandingan.
Pelatih Afrika Selatan, Rassie Erasmus, yang pernah mengalami kekalahan 57-0 dari Inggris pada 2017, memberikan wejangan. "Kadang Anda butuh satu kemenangan besar untuk membangkitkan kepercayaan diri. Saya harap Wales bisa mendapatkannya," ujarnya. Namun, setelah pertandingan di Durban, Erasmus sendiri tahu betapa panjang jalan yang harus ditempuh Wales.
Bagi Indonesia, meski rugby bukan olahraga utama, kisah Wales ini menjadi pelajaran tentang pentingnya fondasi dan identitas dalam membangun tim. Tanpa gaya permainan yang jelas dan kemampuan fisik yang mumpuni, mustahil bersaing di level tertinggi. Nations Championship akan kembali bergulir pada November mendatang. Wales dijadwalkan menghadapi Jepang, Selandia Baru, dan Australia. Bisakah Tandy membalikkan keadaan, atau justru semakin terpuruk?



