Kenangan Maradona: Tim Rugby Argentina Kenakan Jersey Replika Piala Dunia 1986
Baca dalam 60 detik
- Tim rugby Argentina (Pumas) menggunakan replika jersey sepak bola edisi Piala Dunia 1986 saat melawan Inggris di Nations Championship, sebagai penghormatan pada momen ikonik Maradona.
- Langkah ini memicu kembali rivalitas Argentina-Inggris, diperparah oleh aksi pemain sepak bola Argentina yang mengangkat spanduk soal Kepulauan Falkland setelah lolos ke final Piala Dunia 2026.
- FIFA tengah mempertimbangkan sanksi atas spanduk kontroversial tersebut, sementara tim rugby Inggris berganti hotel demi menghindari gangguan perayaan jika Argentina juara Piala Dunia.

Tim rugby Argentina, Los Pumas, tampil dengan jersey replika seragam sepak bola legendaris edisi Piala Dunia 1986 saat menghadapi Inggris dalam laga Nations Championship akhir pekan ini. Langkah simbolis itu menjadi pengingat akan salah satu momen paling kontroversial sekaligus gemilang dalam sejarah sepak bola: gol 'Tangan Tuhan' Diego Maradona yang membawa Argentina menang 2-1 atas Inggris di perempat final, sebelum akhirnya menjadi juara dunia.
Biasanya, Pumas mengenakan kostum putih bergaris biru langitโwarna tradisional Argentina. Namun untuk laga di Estadio Unico Madre de Ciudades, Santiago del Estero, mereka memilih seragam biru gelap yang identik dengan tim sepak bola era Maradona. "Kenangan yang melintasi generasi dan tetap hidup dalam memori kolektif. Hari ini warisan itu kembali berpakaian," tulis akun resmi Los Pumas di media sosial.
Pemilihan jersey ini tidak lepas dari rivalitas panas Argentina-Inggris yang kembali memanas pekan lalu. Tim sepak bola Argentina sukses membalikkan keadaan dan mengalahkan Inggris 2-1 untuk melaju ke final Piala Dunia 2026. Selepas pertandingan, para pemain Argentina mengangkat spanduk bertuliskan 'Las Malvinas son Argentinas'โmerujuk pada sengketa Kepulauan Falkland antara kedua negara. FIFA kini tengah mempertimbangkan sanksi atas aksi tersebut.
Bagi penggemar olahraga di Indonesia, rivalitas Argentina-Inggris mungkin tidak sekuat di Amerika Selatan atau Eropa, namun momen seperti ini tetap menarik karena mengingatkan pada ikon sepak bola global, Maradona. Di Indonesia, Maradona masih dikenang sebagai salah satu pemain terhebat sepanjang masa, dan kisah 'Tangan Tuhan' sering menjadi bahan diskusi di kalangan pecinta sepak bola. Selain itu, sengketa Falkland juga mengingatkan pada isu kedaulatan yang relevan di kawasan Asia Tenggara.
Di sisi teknis, pertandingan rugby ini menjadi ajang pembuktian bagi kedua tim. Inggris datang dengan kepercayaan diri tinggi setelah menghancurkan Fiji 73-8 pekan lalu, mengakhiri rentetan lima kekalahan beruntun. Sementara Argentina menang 35-21 atas Wales setelah sebelumnya kalah dari Skotlandia. Pelatih Inggris Steve Borthwick menargetkan kemenangan keenam beruntun atas Argentina.
Menariknya, tim rugby Inggris sempat berganti hotel di Buenos Aires untuk menghindari potensi gangguan dari perayaan pendukung Argentina jika tim sepak bola mereka menjuarai Piala Dunia. Langkah ini menunjukkan betapa eratnya hubungan antara kedua cabang olahraga di negara tersebut, serta bagaimana rivalitas lintas olahraga bisa berdampak pada persiapan tim.
Ke depan, keputusan FIFA terkait spanduk kontroversial akan menjadi sorotan. Apakah federasi sepak bola dunia akan menjatuhkan sanksi berat, atau sekadar peringatan? Sementara itu, di lapangan rugby, Pumas berharap jersey nostalgia itu bisa membawa keberuntungan seperti yang dirasakan Maradona 38 tahun lalu.



