FIFA Evaluasi Masa Depan Waktu Istirahat Minum di Piala Dunia: Tak Pengaruhi Hasil, tapi Kontroversi Belum Usai
Baca dalam 60 detik
- FIFA mengakui jeda hidrasi tiga menit di setiap babak Piala Dunia 2026 tidak mengubah hasil pertandingan, namun keputusan penggunaan di turnamen mendatang masih ditunda.
- Kritik dari pelatih dan suara fans mencuat karena jeda dianggap merusak ritme permainan dan memberi keuntungan komersial bagi penyiar, terutama di stadion beratap.
- Indonesia sebagai negara tropis dengan potensi menjadi tuan rumah turnamen internasional perlu mencermati keseimbangan antara aspek medis dan integritas olahraga dalam kebijakan serupa.

FIFA memastikan bahwa waktu istirahat minum (hydration break) yang diterapkan di setiap pertandingan Piala Dunia 2026 tidak berdampak pada hasil akhir laga. Meski demikian, masa depan kebijakan tersebut masih menggantung dan akan dievaluasi setelah turnamen usai. Pernyataan ini disampaikan oleh Kepala Pengembangan Sepak Bola Global FIFA, Arsene Wenger, pada konferensi pers jelang final antara Spanyol dan Argentina.
Sejak awal turnamen, jeda tiga menit di pertengahan setiap babak mendapat respons beragam. Di satu sisi, langkah ini dianggap perlu untuk melindungi pemain dari cuaca ekstrem yang melanda sejumlah kota tuan rumah, seperti di Meksiko dan Amerika Serikat bagian selatan. Namun, di sisi lain, banyak pihak menilai kebijakan ini memecah konsentrasi dan mengubah ritme pertandingan yang seharusnya mengalir tanpa interupsi panjang.
Wenger mengakui bahwa reaksi penonton dan pelatih menjadi bahan pertimbangan serius. โKami belum mengambil keputusan final. Ada pertandingan di stadion tertutup yang tidak membutuhkan jeda ini, tapi secara medis tetap diperlukan di laga lain,โ ujarnya. FIFA berencana melakukan analisis mendalam setelah Piala Dunia usai untuk menentukan apakah aturan ini akan dipertahankan, dimodifikasi, atau dihapus sama sekali.
Kontroversi ini juga menyentuh aspek komersial. Jeda hidrasi memberi celah bagi penyiar untuk menayangkan iklan selama lebih dari dua menit, sesuatu yang sebelumnya tidak lazim dalam sepak bola. Hal ini memicu kekhawatiran bahwa kepentingan bisnis mulai mengintervensi kemurnian olahraga. Di awal turnamen, suara siulan dan ejekan penonton terdengar saat jeda berlangsung, menandakan ketidakpuasan publik.
Bagi Indonesia, diskusi ini relevan mengingat negara ini kerap menjadi tuan rumah turnamen internasional dan memiliki iklim tropis dengan suhu tinggi. Kebijakan serupa mungkin diperlukan, namun harus dirancang tanpa mengorbankan kualitas pertandingan. Federasi Sepak Bola Indonesia (PSSI) dapat belajar dari pengalaman FIFA untuk menyusun protokol yang tepat, terutama jika Indonesia ingin menggelar event besar seperti Piala Asia atau bahkan Piala Dunia U-20.
Wenger menegaskan bahwa FIFA berada di posisi melayani para penggemar sepak bola. โKami harus mendengarkan apa yang diinginkan penonton. Jika jeda ini tidak diterima, kami akan menyesuaikan,โ katanya. Namun, ia juga mengingatkan bahwa aspek kesehatan pemain tidak bisa diabaikan begitu saja. Pertanyaannya, apakah ada jalan tengah yang bisa memuaskan semua pihak? Ataukah sepak bola harus menerima kenyataan bahwa adaptasi terhadap iklim dan komersialisasi adalah harga yang harus dibayar untuk tetap relevan di era modern?



