Chris Froome Tutup Karier dengan Penyesalan: Kecelakaan 2019 Hancurkan Peluang Rekor Tour de France
Baca dalam 60 detik
- Chris Froome mengakui kecelakaan fatal di Criterium du Dauphine 2019 menjadi titik balik yang mengakhiri ambisinya merebut gelar kelima Tour de France.
- Pebalap asal Inggris itu memutuskan pensiun setelah serangkaian cedera parah, termasuk patah tulang dan paru-paru kolaps akibat kecelakaan latihan pada 2025.
- Froome kini menjalani peran sebagai duta merek di Tour de France 2026, menandai akhir dari era kejayaan balap sepeda Inggris.

Empat kali juara Tour de France, Chris Froome, secara resmi mengakhiri karier profesionalnya dengan mengungkapkan bahwa kecelakaan dahsyat yang dialaminya pada 2019 menjadi momen yang mengubah segalanya. Dalam wawancara eksklusif dengan Reuters, pebalap asal Kenya kelahiran Inggris itu menyesali insiden yang merenggut peluangnya untuk menyamai rekor lima gelar Tour de France milik legenda seperti Eddy Merckx dan Bernard Hinault.
Kecelakaan terjadi pada Juni 2019, hanya beberapa pekan sebelum Tour de France dimulai. Saat itu Froome menabrak tembok dalam ajang Criterium du Dauphine dan mengalami patah tulang paha, siku, pinggul, serta beberapa tulang rusuk. "Kecelakaan di Dauphine itu adalah titik balik besar dalam karier saya. Saya menyesalinya. Saat itu saya berada dalam kondisi prima untuk memperebutkan gelar kelima Tour de France," ujar Froome, yang saat itu tengah mengejar rekor kemenangan kelima setelah sukses pada 2013, 2015, 2016, dan 2017.
Froome, yang telah memenangkan tujuh Grand Tour sepanjang kariernya, tidak pernah lagi meraih kemenangan setelah menjuarai Giro d'Italia 2018. Meski demikian, ia menegaskan bahwa keputusan untuk terus balapan setelah 2019 adalah pilihan yang tepat. "Jika saya berhenti saat itu, saya akan menghabiskan sisa hidup dengan berpikir, 'Mungkin saya bisa memenangkan Tour de France lagi.' Itu mungkin akan lebih merusak saya," katanya. Ia mengakui butuh waktu dua hingga tiga tahun untuk benar-benar menerima kenyataan bahwa mimpinya telah sirna.
Setelah menghabiskan sebagian besar karier gemilangnya bersama Team Sky (kini Ineos), Froome bergabung dengan Israel-Premier Tech pada 2021 untuk lima musim terakhir. Ia mengaku sudah tahu bahwa kontrak tersebut akan menjadi yang terakhir. Namun, rencana pensiunnya terganggu oleh kecelakaan latihan pada Agustus 2025 yang menyebabkan patah tulang rusuk, paru-paru kolaps, dan patah tulang punggung. "Tidak ada yang menginginkan cedera yang mengancam jiwa seperti itu," ujarnya. Cedera itu menambah daftar panjang masalah fisik yang pernah dialaminya, termasuk patah tulang selangka pada Februari 2025.
Karier Froome tidak lepas dari kontroversi, terutama terkait penggunaan obat asma yang diizinkan, namun ia tetap dihormati sebagai salah satu pebalap terbaik generasinya. Kini, ia hadir di Tour de France 2026 sebagai duta merek, sebuah peran yang memungkinkannya tetap terlibat dalam dunia balap tanpa harus mempertaruhkan nyawa. "Saya selalu menghargai kemenangan pertama saya di Tour pada 2013. Saat itu saya sangat bersemangat mendapatkan kesempatan untuk balapan, dan semuanya berjalan sempurna. Mencapai Paris dengan jersey kuning adalah hari yang tak akan pernah saya lupakan," kenangnya.
Bagi penggemar balap sepeda Indonesia, kisah Froome menjadi pengingat betapa tipisnya garis antara kejayaan dan kegagalan. Di tengah maraknya event balap sepeda di Tanah Air, seperti Tour de Indonesia, perjuangan Froome melawan cedera dan tekanan mental bisa menjadi pelajaran berharga bagi atlet muda. Pertanyaan besarnya kini: akankah ada pebalap baru yang mampu menyaingi rekor-rekor yang ditinggalkan Froome, atau justru era keemasan balap sepeda Inggris telah benar-benar berakhir?



