Paul Seixas, Remaja 19 Tahun, Rebut Kaus Putih dan Incar Podium Tour de France
Baca dalam 60 detik
- Pembalap termuda Tour de France sejak 1937, Paul Seixas, naik ke peringkat keempat klasemen setelah finis ketiga di etape 14.
- Kaus putih pembalap muda terbaik kini disandang Seixas, menggeser Juan Ayuso dengan keunggulan tiga detik.
- Seixas hanya terpaut 15 detik dari posisi podium ketiga yang ditempati Remco Evenepoel, dengan dua pekan balapan tersisa.

Paul Seixas, pembalap asal Prancis yang baru berusia 19 tahun, berhasil merebut kaus putih sebagai pebalap muda terbaik Tour de France setelah menuntaskan etape 14 dengan gemilang, Sabtu (18/7). Ia finis ketiga pada rute sepanjang 155,3 kilometer dari Mulhouse menuju Le Markstein, sekaligus naik ke peringkat keempat klasemen umum. Prestasi ini menempatkannya sebagai kandidat kuat untuk mengamankan tempat di podium akhir.
Seixas, yang merupakan peserta termuda yang memulai Tour sejak 1937, menunjukkan konsistensi luar biasa. Hanya beberapa hari setelah meraih podium pertamanya di Le Lioran, ia kembali tampil impresif di etape pegunungan. Kini ia duduk 15 detik di belakang Remco Evenepoel (Belgia) yang menempati posisi ketiga klasemen. Sementara itu, Tadej Pogacar (Slovenia) dan Jonas Vingegaard (Denmark) masih kokoh di dua besar.
โSungguh menyenangkan mengenakan kaus putih ini dan masih bisa bersaing untuk podium,โ ujar Seixas usai etape. Ia mengambil alih kaus putih dari Juan Ayuso (Lidl-Trek) dengan keunggulan tipis tiga detik. โIni luar biasa, sungguh berat tapi indah. Hari ini adalah tantangan lainโkami mulai terbiasa dengan kerasnya Tour,โ tambahnya.
Kunci keberhasilan Seixas tak lepas dari kerja tim Decathlon CMA CGM. Di tanjakan Col du Haag, Tiesj Benoot dan Nicolas Prodhomme memacu kecepatan di depan rombongan favorit. โHari ini Paul merasa baikโia sangat kuat di etape pegunungan menengah seperti ini,โ jelas Benoot. โIa bilang merasa prima, jadi kami coba meluncurkannya di tanjakan terakhir, dan hasilnya memuaskan.โ
Saat pemegang kaus kuning Pogacar melancarkan serangan 1,5 kilometer sebelum puncak Col du Haag, Seixas mampu menjaga ritme, meninggalkan Ayuso dan Florian Lipowitz, lalu menyusul Vingegaard di puncak. Ia finis ketiga di belakang Isaac del Toro, namun unggul atas Vingegaard. Bonus empat detik yang diraihnya semakin memperkuat ambisinya merebut podium.
โHasil ini memberi saya kepercayaan diri lebih, tapi Tour belum selesai. Bagian tersulit masih menanti, dan saya tetap pragmatis. Masih banyak yang harus dilakukan besok,โ kata Seixas. Etape 15 pada Minggu (19/7) akan menjadi ujian berat berikutnya, dengan tanjakan ekstrem menuju Plateau de Solaison. Rute ini sudah sangat akrab bagi Seixas. โTidak jauh dari rumah kakek-nenek saya, saya sering berlatih di sana. Ini salah satu tanjakan terberat yang saya tahu. Jika besok berjalan sebaik hari ini, itu akan sempurna,โ ungkapnya.
Bagi penggemar balap sepeda di Indonesia, performa Seixas menjadi tontonan menarik. Meski tidak ada pembalap Asia Tenggara yang berlaga di Tour tahun ini, aksi remaja Prancis ini mengingatkan pada pentingnya pembinaan usia muda. Indonesia, yang tengah mengembangkan olahraga balap sepeda, bisa belajar dari sistem pengembangan bakat seperti yang dilakukan Decathlon CMA CGM. Keberhasilan Seixas menunjukkan bahwa investasi pada pebalap muda dapat bersaing di level tertinggi.
Pertanyaan besarnya: mampukah Seixas mempertahankan momentum dan merebut podium di Paris? Dengan dua pekan balapan yang masih panjang, termasuk etape pegunungan Alpen dan Pyrenees, segalanya masih mungkin terjadi. Namun, jika konsistensinya terus terjaga, bukan tidak mungkin ia akan menjadi salah satu kejutan terbesar Tour edisi tahun ini.



