Saliba Bebas Operasi: Arsenal Lega, Tapi Risiko Cedera Belum Usai
Baca dalam 60 detik
- Pemeriksaan medis terbaru menunjukkan cedera punggung William Saliba tidak bertambah parah, sehingga operasi bisa dihindari.
- Keputusan ini meredakan kekhawatiran Arsenal akan kehilangan bek andalannya dalam waktu lama, namun program perawatan jangka panjang masih berisiko.
- Jika Saliba absen, Mikel Arteta harus mengubah strategi pertahanan dan bisa memicu belanja pemain baru di bursa transfer.

Klub Liga Inggris Arsenal mendapat kabar positif terkait kondisi bek tengah William Saliba setelah serangkaian tes medis pada Rabu (18/7) menunjukkan tidak ada kerusakan tambahan pada punggungnya. Pemain timnas Prancis itu sebelumnya dikhawatirkan harus menjalani operasi dan absen hingga lima bulan, tetapi hasil terbaru membuka peluang penanganan non-bedah.
Saliba mengalami masalah punggung sejak sebelum Piala Dunia 2026 dan menjalani program latihan individu bersama skuad Prancis. Ia tetap menjadi bagian penting tim Didier Deschamps, meski hanya bertahan sekitar 30 menit di semifinal saat kalah dari Spanyol. Riwayat cederanya membuat Arsenal waspada—pada Maret 2023, cedera serupa memaksanya menepi dari 11 pertandingan terakhir Premier League, yang berkontribusi pada kegagalan The Gunners mempertahankan puncak klasemen dan finis di belakang Manchester City.
Kini situasi berbeda. Mikel Arteta memiliki lebih banyak opsi di lini belakang: Gabriel Magalhaes, Cristhian Mosquera, Piero Hincapie, Riccardo Calafiori, Jurrien Timber, dan Ben White semuanya bisa mengisi pos bek tengah. Namun, tak satu pun dari mereka memiliki kombinasi kecepatan recovery, kekuatan fisik, dan ketenangan distribusi bola seperti Saliba. Sejak kembali dari masa pinjaman di Prancis pada 2022, ia menjadi pilar tim utama dan baru menandatangani kontrak jangka panjang pada September 2025 setelah 140 penampilan senior.
Kabar dari L’Equipe, yang disebarluaskan oleh jurnalis Eduardo Hagn, menyebutkan bahwa tes pada Rabu tidak menemukan cedera baru. Jalur yang dipilih kini adalah program perawatan jangka panjang, bukan operasi. Ini perubahan signifikan dari laporan sebelumnya yang mengindikasikan operasi dan masa pemulihan 4-5 bulan. Meski demikian, Arsenal tetap akan melakukan evaluasi sendiri saat Saliba kembali dari tugas internasional.
Keputusan menghindari operasi membawa keuntungan finansial—biaya operasi dan rehabilitasi pascaoperasi bisa ditekan. Namun, ketidakpastian jadwal pemulihan justru bisa mempersulit perencanaan skuad. Arsenal mungkin tetap perlu merekrut bek tambahan jika Saliba belum fit saat musim baru bergulir. Bagi penggemar sepak bola Indonesia, perkembangan ini menarik karena Arsenal memiliki basis penggemar besar di Tanah Air. Jika Saliba absen panjang, performa tim bisa terpengaruh dan berdampak pada persaingan gelar Premier League yang selalu dinantikan.
Menurut analis sepak bola Eropa, pendekatan konservatif ini masuk akal mengingat usia Saliba yang masih 25 tahun. Namun, risiko cedera berulang tetap ada. Arsenal harus memastikan program perawatan berjalan optimal tanpa memaksakan pemain kembali terlalu cepat. Pertanyaan besarnya: mampukah Arteta mempertahankan soliditas pertahanan tanpa Saliba, atau justru ini menjadi celah yang dimanfaatkan rival seperti Manchester City?



