Josh Kerr Hempaskan Rekor Mil 27 Tahun El Guerrouj di London
Baca dalam 60 detik
- Pelari Inggris Josh Kerr memecahkan rekor dunia mil putra yang bertahan 27 tahun milik Hicham El Guerrouj di London Diamond League.
- Catatan waktu 3 menit 42,66 detik yang dibukukan Kerr lebih cepat hampir setengah detik dari rekor sebelumnya.
- Kerr menjadi atlet Inggris ketujuh pemegang rekor mil dan pertama sejak Steve Cram pada 1985.

Pelari jarak menengah Inggris, Josh Kerr, mencatatkan sejarah baru di dunia atletik dengan memecahkan rekor dunia mil putra yang telah bertahan selama 27 tahun. Berlaga di London Diamond League di hadapan 60.000 penonton yang memadati London Stadium, Kerr finis dengan waktu 3 menit 42,66 detik, menggeser rekor legendaris milik Hicham El Guerrouj dari Maroko yang tak tersentuh sejak 1999.
Rekor El Guerrouj, yang sebelumnya dianggap hampir mustahil dilampaui, akhirnya jatuh setelah Kerr menunjukkan performa luar biasa. Atlet berusia 28 tahun itu mengumumkan niatnya untuk memecahkan rekor tersebut sejak Maret lalu, dan ia membuktikan ambisinya dengan aksi gemilang di lintasan. Kerr, yang telah mengoleksi lima medali di ajang global, unggul hampir setengah detik dari catatan El Guerrouj yang sebelumnya menjadi tolok ukur ketahanan dan kecepatan di nomor mil.
Pencapaian ini menempatkan Kerr sebagai atlet Inggris ketujuh yang memegang rekor dunia mil, sekaligus yang pertama sejak Steve Cram pada 1985. Sorak sorai penonton yang memadati stadion menjadi saksi bagaimana Kerr mengukir namanya dalam buku sejarah atletik. Bagi Kerr, ini bukan sekadar rekor, melainkan puncak dari kerja keras dan strategi yang telah dirancangnya selama bertahun-tahun.
Bagi penggemar atletik di Indonesia, rekor Kerr menjadi pengingat bahwa batas prestasi manusia terus terdorong. Meski Indonesia belum memiliki tradisi kuat di nomor lari jarak menengah, pencapaian seperti ini bisa menjadi inspirasi bagi atlet muda Tanah Air untuk berani bermimpi besar. Regenerasi atlet lari Indonesia, seperti Lalu Muhammad Zohri di nomor sprint, menunjukkan potensi yang ada. Namun, untuk nomor mil yang membutuhkan kombinasi kecepatan dan daya tahan, masih diperlukan pembinaan jangka panjang.
Menurut analis olahraga, keberhasilan Kerr juga dipengaruhi oleh pendekatan ilmiah dalam pelatihan dan dukungan penuh dari federasi atletik Inggris. Hal ini menjadi pelajaran berharga bagi negara berkembang seperti Indonesia untuk meningkatkan investasi di bidang olahraga, terutama dalam hal riset dan fasilitas. Dengan persaingan global yang semakin ketat, rekor dunia bukan lagi sekadar mimpi, melainkan target yang bisa dicapai dengan perencanaan matang.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah: mampukah Kerr mempertahankan performa ini hingga Olimpiade Paris 2024? Atau akankah muncul pesaing baru yang mampu menantang dominasinya? Satu hal yang pasti, dunia atletik kini memiliki standar baru di nomor mil, dan semua mata akan tertuju pada langkah Kerr selanjutnya.



