Skotlandia Bangkit dari Keterpurukan, Gilas Fiji di Babak Kedua
Baca dalam 60 detik
- Skotlandia mengamankan kemenangan bonus point setelah tertinggal 7-17 di babak pertama, berkat performa gemilang pemain pengganti.
- Fiji tampil impresif di awal laga dengan tiga try beruntun, namun kehilangan stamina dan organisasi di paruh kedua.
- Kemenangan ini memperkuat posisi Skotlandia di klasemen Nations Championship, sekaligus menunjukkan kedalaman skuad Gregor Townsend.

Skotlandia memastikan akhir musim gugur yang manis di Murrayfield dengan kemenangan susah payah atas Fiji, 31-17, dalam lanjutan Nations Championship. Tertinggal 7-17 di babak pertama, tim asuhan Gregor Townsend bangkit dengan dahsyat berkat kontribusi luar biasa dari para pemain pengganti yang mencetak empat dari lima try tim tuan rumah.
Fiji, yang dihancurkan Inggris pekan lalu, datang ke Edinburgh dengan semangat dan permainan yang sama sekali berbeda. Mereka mendominasi 40 menit pertama dengan pertahanan heroik dan serangan mematikan. Tiga try cepat dari Tevita Ikanivere, Selestino Ravutaumada, dan Elia Canakaivata membuat Murrayfield terhenyak. Skotlandia tampil lamban, kalah dalam perebutan bola mati, dan tidak mampu memanfaatkan keunggulan jumlah pemain saat Lekima Tagitagivalu dihukum kartu kuning.
Namun, babak kedua menjadi milik Skotlandia. Townsend menarik semua pemain kuncinya dari bangku cadangan, dan hasilnya langsung terasa. Pierre Schoeman menerobos pertahanan Fiji untuk mencetak try, disusul Jamie Dobie yang membawa Skotlandia unggul untuk pertama kalinya. Scott Cummings menambah try bonus point, dan Dobie menutup pesta dengan try keduanya di akhir laga. Sione Tuipulotu juga menjadi motor serangan yang merepotkan pertahanan Fiji yang mulai kelelahan.
Kemenangan ini menunjukkan kedalaman skuad Skotlandia yang luar biasa. Setelah tampil heroik melawan Afrika Selatan di Pretoria, Townsend merotasi hampir seluruh pemainnya. Meskipun babak pertama berjalan buruk, para pemain pengganti mampu mengubah ritme permainan. Bagi Fiji, performa impresif di babak pertama menjadi modal berharga meski akhirnya kehabisan tenaga. Mereka membuktikan mampu bermain dengan disiplin dan variasi, tidak hanya mengandalkan naluri liar khas Pasifik.
Bagi pengamat rugbi di Indonesia, laga ini menjadi tontonan menarik karena memperlihatkan bagaimana strategi rotasi pemain dan manajemen energi bisa menjadi penentu kemenangan. Tim-tim Asia Tenggara yang mulai mengembangkan rugbi bisa belajar dari pendekatan Skotlandia yang berani memainkan banyak pemain pengganti berkualitas. Pertanyaan selanjutnya: akankah Fiji mampu mempertahankan konsistensi seperti ini di pertandingan mendatang, atau justru Skotlandia yang akan menjadi ancaman serius di papan atas Nations Championship?



