Jon Rahm Lolos dari Hukuman Berat Usai Lempar Stik di British Open
Baca dalam 60 detik
- Jon Rahm mendapat peringatan setelah melempar stik golf di hole 15 British Open, padahal pelanggaran kode etik R&A bisa berujung penalti pukulan.
- Petenis Spanyol itu mengaku menyesali tindakannya, namun menegaskan bahwa intensitas dan passion adalah bagian dari karakternya di lapangan.
- Insiden ini menyoroti dilema antara pengendalian emosi dan performa atletik di olahraga profesional, relevan bagi atlet Indonesia yang kerap menghadapi tekanan serupa.

Jon Rahm, mantan nomor satu dunia asal Spanyol, hanya menerima peringatan setelah melempar stik golfnya karena frustrasi pada ronde kedua British Open di Royal Birkdale, Jumat (17/7). Tindakan itu terjadi setelah pukulan tee-nya melenceng di hole 15 par-3, namun ia lolos dari sanksi pukulan yang sebenarnya diatur dalam kode etik R&A.
Rahm mencatat skor 67 pada ronde tersebut, tertinggal empat pukulan dari pemimpin klasemen sementara, Lucas Herbert asal Australia. Namun, insiden di hole 15 sempat membuatnya khawatir akan terkena penalti. Seorang ofisial kemudian mendatanginya di hole 17 dan memberikan peringatan resmi, tanpa pengurangan skor.
โSaya tidak memikirkannya sampai saya melihatnya (ofisial) di hole 17, dan ketika dia berjalan ke arah saya, saya langsung tahu untuk apa. Tapi saat itu saya tidak memikirkannya,โ ujar Rahm, seperti dikutip dari Channel News Asia.
Rahm dikenal sebagai pemain yang penuh gairah di lapangan. Ketika ditanya apakah ia khawatir akan luapan emosi serupa selama akhir pekan, ia mengakui kesalahannya. โSaya seharusnya tidak bereaksi seperti itu, tapi saya melakukannya. Maksud saya, kalian bertingkah seolah itu terjadi di setiap hole. Saya mengerti. Saya punya momen,โ katanya.
Ia menambahkan, โSaya jelas lebih intens dan bergairah dibanding banyak pemain di sini, terutama saat bekerja. Tapi saya tidak memikirkannya. Bukan berarti saya akanโjika saya terlalu banyak mengubah siapa diri saya, itu mungkin akan merugikan saya di lapangan. Namun tentu saja saya tidak seharusnya memiliki momen seperti di hole 15; saya mengerti.โ
Bagi atlet Indonesia, insiden ini menjadi pengingat akan pentingnya pengendalian emosi di tengah tekanan kompetisi. Dalam olahraga golf yang menuntut ketenangan, ledakan emosi seperti yang dilakukan Rahm bisa berakibat fatal jika tidak segera dikelola. Namun, Rahm justru melihat passion sebagai bagian dari identitasnya yang membantunya tampil maksimal. Dilema antara mengontrol emosi dan mempertahankan intensitas ini kerap dihadapi atlet-atlet Tanah Air, terutama di cabang olahraga individu seperti bulu tangkis atau panahan, di mana konsentrasi dan stabilitas mental sangat menentukan hasil.
Ke depannya, pertanyaan yang muncul adalah apakah R&A akan memperketat sanksi untuk insiden serupa di masa mendatang, atau justru memberikan kelonggaran bagi pemain dengan karakter eksplosif seperti Rahm. Di sisi lain, Rahm sendiri harus belajar dari pengalaman ini agar tidak mengulangi kesalahan yang sama, terutama saat bersaing di turnamen major. Bisakah ia mempertahankan performa tanpa kehilangan kendali? Publik golf dunia menunggu jawabannya.



