Dari Ruang Kelas ke Final Piala Dunia: Ikatan Guru dan Murid yang Mengubah Takdir
Baca dalam 60 detik
- Pelatih Spanyol Luis de la Fuente dan Argentina Lionel Scaloni bertemu saat Scaloni mengambil lisensi kepelatihan di federasi Spanyol pada 2017, dengan De la Fuente sebagai pengajarnya.
- Keduanya membangun tim nasional yang mengutamakan kekeluargaan dan nilai kolektif, meskipun tidak pernah melatih klub papan atas.
- Pertemuan di final Piala Dunia menjadi puncak perjalanan dua pelatih yang sempat terpinggirkan dari sepak bola.

Luis de la Fuente dan Lionel Scaloni, dua pelatih yang akan saling berhadapan di final Piala Dunia, memiliki ikatan yang tak terduga: mereka adalah guru dan murid di ruang kelas. Scaloni, yang saat itu berada dalam masa transisi setelah pensiun, mendaftar kursus Lisensi Pro UEFA di federasi Spanyol pada 2017 dan bertemu De la Fuente yang mengajar modul teknik. Scaloni lulus dengan nilai terbaik dan sejak itu hubungan keduanya terus terjaga.
Kisah kedua pelatih ini sama-sama tidak lazim. De la Fuente, 65 tahun, menghabiskan 15 tahun melatih di divisi bawah Spanyol, sempat dipecat dari Alaves, dan nyaris meninggalkan sepak bola. Ia kemudian memulai lagi dari iklan lowongan pelatih muda di federasi, menangani tim U-19, U-21, hingga Olimpiade, dan akhirnya dipercaya menangani tim senior Spanyol pada 2022. Scaloni, di sisi lain, tidak pernah melatih klub papan atas. Karier kepelatihannya dimulai sebagai asisten Jorge Sampaoli di Sevilla dan Argentina, lalu naik menjadi pelatih utama setelah kegagalan Argentina di Piala Dunia 2018. Kritik keras tentang kurangnya pengalaman tidak menyurutkan langkahnya.
Kedua pelatih membangun tim yang mengedepankan kebersamaan. De la Fuente, yang dikenal sebagai arsitek regenerasi pemain muda Spanyol, telah melatih sebagian besar skuad saat ini sejak remaja—seperti Dani Olmo, Pedri, dan Mikel Oyarzabal—dan bahkan mengenal keluarga mereka. Metodenya adalah menumbuhkan rasa hormat, kesabaran, dan ketenangan. Scaloni, sebaliknya, mengandalkan budaya ruang ganti Argentina yang khas: barbekyu, karaoke, dan cerita bersama. Staf kepelatihannya sebagian besar mantan pemain yang paham kebutuhan pemain internasional tanpa harus banyak bicara taktik.
Kedua pelatih juga memiliki kesamaan dalam menghadapi masa sulit. De la Fuente sempat kehilangan arah setelah dipecat, sementara Scaloni mengalami transisi berat saat pensiun hingga melatih anak usia 14 tahun di klub kecil dekat rumahnya di Mallorca. Ia bahkan menyarankan setiap klub memiliki psikolog untuk membantu pemain menghadapi "pagi yang kosong" setelah pensiun. Scaloni sendiri menjalani terapi setelah memenangkan Copa America dan Piala Dunia, dibantu dengan bersepeda jarak jauh.
Bagi Indonesia, kisah ini memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya pembinaan jangka panjang dan nilai kekeluargaan dalam sepak bola. Di tengah gempuran pelatih asing dan tekanan hasil instan, pendekatan De la Fuente dan Scaloni menunjukkan bahwa kesabaran dan kepercayaan terhadap proses bisa membawa hasil maksimal. PSSI dan klub-klub Indonesia bisa meniru model pembinaan berkelanjutan seperti yang dilakukan Spanyol, di mana pelatih mengenal pemain sejak usia dini.
Fernando Hierro, mantan direktur teknis federasi Spanyol, pernah menggambarkan De la Fuente sebagai "ahli bahan mentah sepak bola Spanyol yang membangun keluarga yang menikmati sepak bola". Deskripsi itu juga cocok untuk Scaloni. Keduanya lebih memilih kontinuitas daripada perubahan drastis. De la Fuente tetap setia pada generasi yang ia latih sejak remaja; Scaloni mempertahankan pendukung Messi bahkan setelah kekalahan dari Brasil di semifinal Copa America 2019, dan hasilnya terbayar dua tahun kemudian di Maracana.
Pada Minggu nanti, guru dan murid akan bertemu lagi di lapangan. Mereka sadar bahwa kalah adalah bagian dari olahraga, tetapi kemenangan akan membuat kisah dua orang yang sempat terbuang dari sepak bola semakin luar biasa. Pertanyaannya, apakah Spanyol mampu mengulang sukses Eropa 2024, atau Argentina akan mempertahankan mahkota dunia?



