MetLife Stadium: Panggung Final Piala Dunia yang Kontroversial, Tapi Menguntungkan
Baca dalam 60 detik
- MetLife Stadium di New Jersey dipilih sebagai venue final Piala Dunia 2026 meskipun menuai kritik soal desain, transportasi, dan kualitas rumput.
- FIFA memprioritaskan akses ke pasar media dan ekonomi New York, mengalahkan kenyamanan stadion seperti Atlanta yang ber-AC dan lebih mudah diakses.
- Keputusan ini menimbulkan pertanyaan tentang keseimbangan antara kepentingan bisnis dan pengalaman penggemar di ajang sepak bola terbesar dunia.

MetLife Stadium, yang dikenal sebagai NY-NJ Stadium selama Piala Dunia 2026 karena larangan sponsor korporat FIFA, akan menjadi tuan rumah partai final antara Spanyol dan Argentina. Namun, di balik gemerlap panggung terbesar sepak bola, stadion ini justru menjadi sorotan tajam karena berbagai kekurangan, mulai dari desain yang dianggap hambar hingga akses transportasi yang rumit. Pertanyaannya, apakah pilihan ini tepat untuk laga puncak turnamen?
Stadion yang terletak di East Rutherford, New Jersey, ini memang bukan tanpa prestasi. Dengan kapasitas 82.500 kursi dan 200 suite mewah, MetLife telah menjadi tuan rumah Super Bowl, konser Paul McCartney, dan Wrestlemania. Namun, bagi para penggemar sepak bola, pengalaman di stadion terbuka ini terasa kurang memuaskan. Kolumnis olahraga New Jersey, Steve Politi, bahkan menyebutnya "blah"โistilah teknis untuk sesuatu yang biasa-biasa saja. Seorang pembacanya membandingkan tampilan stadion dengan toilet penjara raksasa, sementara yang lain menyamakannya dengan pendingin udara besar.
Kritik juga menyasar aksesibilitas. Terletak di bekas rawa yang dikelilingi jalan tol, kawasan Meadowlands Sports Complex sulit dijangkau tanpa mobil. Pengguna rideshare harus berjibaku dengan jalur lalu lintas yang berliku, sementara pengguna kereta api membayar $98 per tiket NJTransit dan antre panjang. Meski demikian, panitia setempat mengklaim 97% penggemar telah masuk stadion sebelum pertandingan dimulai, dan evakuasi selesai dalam 2,5 jam setelah laga usai.
Bagi FIFA, daya tarik utama MetLife bukanlah kenyamanan, melainkan akses ke pasar global. Alex Lasry, CEO Komite Tuan Rumah Piala Dunia 2026 NYNJ, menyebut New York sebagai "ibu kota dunia" dalam hal media, hiburan, dan ekonomi. "Ini bukan hanya tentang 80.000 orang di stadion, tetapi puluhan ribu yang akan merayakan di seluruh kawasan," ujarnya. Keputusan ini juga didukung oleh analis stadion Kuba Kowalski, yang menilai MetLife sebagai pilihan aman secara bisnis karena lokasinya memungkinkan final dimainkan pada jam tayang yang cocok untuk Eropa dan Amerika, serta berada di pasar premium bagi sponsor dan penyiar.
Namun, kekhawatiran terbesar adalah kualitas lapangan. Rumput alami yang baru dipasang menggantikan rumput sintetis biasa mendapat keluhan dari pemain Brasil dan Prancis. Vinicius Jr menyebut lapangan terlalu kering sehingga memperlambat permainan, sementara pelatih Prancis Didier Deschamps mengeluhkan rumput yang pendek dan keras, "mungkin ada beton di bawahnya". FIFA membantah dengan menyatakan semua lapangan dalam kondisi sehat dan sesuai standar.
Bagi penggemar asal Inggris, Jason Bentham, yang mengunjungi tiga stadion, Atlanta menjadi favorit karena atap tertutup dan harga bir yang lebih murah. Ia membandingkan dengan MetLife yang terbuka dan mahal. Namun, ia mengakui New York sebagai kota terbaik secara keseluruhan. Iain Bagwell, penggemar lain, menyesalkan risiko cuaca di MetLife. "Jika badai datang, pertandingan pasti tertunda," katanya, seraya menunjuk Atlanta sebagai alternatif ideal dengan akses bandara dan harga konsesi murahโhot dog $2, ayam dan kentang goreng $6.
Meski demikian, Politi optimistis MetLife bisa memberikan tontonan final yang layak. "Saat stadion penuh dan pertandingan bagus, tempat ini bisa sangat bising dan bergoyang," ujarnya. Pertanyaan yang tersisa: apakah keputusan bisnis FIFA akan mengorbankan pengalaman sepak bola murni? Atau justru sebaliknya, final di New Jersey akan menjadi pesta global yang tak terlupakan?



