FIFA Menang Taruhan: Tiket Piala Dunia Termahal Ludes Terjual, Fans Rela Bayar Berapa Pun
Baca dalam 60 detik
- Lebih dari 99% tiket babak grup Piala Dunia 2026 terjual habis, membungkam kekhawatiran harga selangit.
- Sistem harga dinamis FIFA dan praktik 'slow ticketing' menjadi kunci sukses komersial turnamen.
- Harga tiket final menembus rata-rata USD 11.000 di pasar sekunder, melampaui Super Bowl 2024.

Final Piala Dunia 2026 antara Argentina dan Spanyol di New York New Jersey Stadium pada Minggu (18/7) tidak hanya mempertemukan dua raksasa sepak bola, tetapi juga menjadi panggung pembuktian strategi harga FIFA yang paling berani dalam sejarah. Turnamen yang disebut-sebut sebagai ajang olahraga termahal yang pernah digelar di Amerika Serikat ini sukses mengisi hampir seluruh kursi stadion, membungkam para kritikus yang meragukan daya beli suporter.
Data Reuters yang menganalisis laporan kehadiran FIFA menunjukkan lebih dari separuh dari 72 pertandingan babak grup terisi penuh. FIFA mengklaim 99,7 persen kursi yang tersedia selama fase awal terisi. Angka ini kontras dengan kekhawatiran awal ketika tribun Stadion Guadalajara tampak kosong pada laga Korea Selatan versus Republik Ceko, 11 Juni lalu. Saat itu, FIFA mencatat kehadiran 44.985 penonton dari kapasitas hampir 46.000, namun saksi mata Reuters melihat banyak deretan kursi lowong.
Scott Friedman, pakar tiket yang pernah bekerja untuk Cleveland Cavaliers, menilai FIFA berhasil membaca pasar dengan tepat. "Apa yang dilakukan FIFA dengan sangat baik adalah menentukan permintaan, karena orang-orang membayar harga yang tidak masuk akal untuk hampir semua 104 pertandingan," ujarnya. Ia menambahkan bahwa setahun lalu banyak pihak skeptis terhadap minat perjalanan akibat kebijakan imigrasi AS, namun popularitas turnamen mengalahkan segala hambatan.
FIFA untuk pertama kalinya menerapkan sistem harga dinamis (dynamic pricing) pada Piala Dunia ini, yang membuat harga tiket berfluktuasi berdasarkan permintaan real-time. Adam Elmachtoub, profesor riset operasi dari Columbia University, menyebut kurangnya transparansi sebagai sumber frustrasi. "Orang-orang bersedia menerima harga dinamis untuk tiket pesawat atau pakaian, tetapi untuk acara sebesar ini, transparansi akan sangat membantu," katanya. Meski demikian, praktik "slow ticketing"—menahan stok tiket untuk menciptakan kesan kelangkaan—turut mendongkrak permintaan.
Di sisi lain, aturan pasar sekunder yang longgar di AS mempercepat pengurasan kantong suporter. Berbeda dengan Meksiko yang melarang penjualan tiket di atas harga beli, calo di AS bebas menentukan harga. Lonjakan daftar tiket pada pekan terakhir sempat menurunkan harga di SeatGeek, namun tetap menjadikan final ini sebagai event termahal yang pernah dijual platform tersebut. Chris Leyden, direktur senior pemasaran SeatGeek, mencatat bahwa "nafsu terhadap turnamen ini bertahan luar biasa dari babak grup hingga knockout."
Namun, di balik gemerlap komersial, kritik mengemuka. Sport & Rights Alliance melaporkan bahwa suporter dari sejumlah negara gagal mendapatkan visa, bertentangan dengan janji Presiden FIFA Gianni Infantino tentang Piala Dunia yang inklusif. Ronan Evain, direktur eksekutif Football Supporters Europe, menyebut turnamen ini hanya untuk segelintir orang beruntung. "Mereka yang berasal dari Eropa—Norwegia, Skotlandia—yang memiliki daya beli cukup untuk bepergian ke AS, tidak perlu visa dan mampu membayar harga tiket yang selangit," sindirnya.
Bagi Indonesia, Piala Dunia 2026 menjadi cermin pahit tentang kesenjangan akses. Dengan harga tiket grup setara lebih dari Rp 9 juta, belum termasuk biaya akomodasi dan visa, turnamen ini nyaris mustahil dijangkau suporter Tanah Air. Meski Timnas Indonesia tidak lolos, animo masyarakat tetap tinggi—terbukti dari maraknya nobar dan diskusi di media sosial. Pertanyaannya, mampukah FIFA dan pemerintah tuan rumah menciptakan mekanisme yang lebih adil di masa depan, atau Piala Dunia akan selamanya menjadi panggung eksklusif bagi kalangan berada?



