SpaceX Nego Kontrak Raksasa dengan Pentagon: Pasok Daya Komputasi AI Militer
Baca dalam 60 detik
- SpaceX tengah merundingkan kontrak miliaran dolar dengan Pentagon untuk menyediakan kapasitas pusat data guna menjalankan model AI bagi kepentingan pertahanan AS.
- Langkah ini menempatkan SpaceX sebagai pesaing langsung penyedia komputasi awan seperti CoreWeave dan Amazon Web Services di segmen pertahanan.
- Kesepakatan serupa telah dijalin SpaceX dengan Google dan Anthropic, menandai ekspansi agresif perusahaan di luar bisnis roket dan satelit.

SpaceX, perusahaan antariksa milik Elon Musk, dikabarkan tengah menjajaki kerja sama strategis dengan Departemen Pertahanan Amerika Serikat untuk memasok kapasitas pusat data bernilai miliaran dolar. Kesepakatan ini, jika terwujud, akan digunakan untuk menjalankan model kecerdasan buatan (AI) bagi keperluan militer dan intelijen.
Menurut laporan Wall Street Journal yang mengutip sumber internal, negosiasi masih berlangsung dan belum mencapai kata sepakat. Namun, potensi kontrak ini menandai perluasan peran SpaceX di luar bisnis utamanya sebagai penyedia layanan peluncuran roket dan komunikasi satelit. Selama ini, SpaceX telah menjadi mitra kunci Pentagon dalam peluncuran satelit, komunikasi berbasis orbit, dan pelacakan rudal.
Rencana ini juga mengindikasikan ambisi SpaceX untuk bersaing langsung dengan penyedia komputasi awan khusus seperti CoreWeave. SpaceX disebut-sebut siap menawarkan kapasitas komputasi dengan harga lebih murah kepada pelanggan AI, termasuk institusi pemerintah. Langkah ini sejalan dengan tren global di mana militer berbagai negara mulai mengadopsi AI untuk analisis intelijen, pengambilan keputusan, dan sistem otonom.
Konteks domestik Indonesia patut dicermati. Meski tidak terlibat langsung, persaingan global penyedia komputasi AI berdampak pada rantai pasok teknologi dan kebijakan keamanan siber. Indonesia yang tengah mengembangkan ekosistem AI nasional perlu mengantisipasi dominasi penyedia asing, terutama dalam proyek pertahanan dan intelijen. Kemandirian teknologi menjadi isu krusial di tengah ketergantungan pada chip dan infrastruktur komputasi dari negara lain.
SpaceX sendiri telah menunjukkan keseriusannya di sektor ini. Pada Juni lalu, perusahaan menandatangani kontrak multi-tahun dengan Google untuk menyediakan akses ke sekitar 110.000 chip Nvidia dan infrastruktur komputasi terkait. Sebelumnya, Anthropic—pengembang AI—mengumumkan kesepakatan menggunakan seluruh kapasitas komputasi fasilitas Colossus 1 SpaceX di Memphis, yang menyediakan daya 300 megawatt.
Kesepakatan serupa dengan Pentagon akan menjadi lompatan besar bagi SpaceX, sekaligus mengukuhkan posisinya sebagai pemain utama di pasar komputasi awan untuk pertahanan. Namun, negosiasi masih bisa gagal, mengingat kompleksitas regulasi dan persyaratan keamanan nasional yang ketat.
Pertanyaan yang mengemuka: apakah langkah SpaceX ini akan memicu perang harga di industri komputasi awan, atau justru memperkuat monopoli segelintir perusahaan di sektor pertahanan? Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi pengingat bahwa penguasaan infrastruktur AI adalah isu strategis yang tak bisa diabaikan.



