Prabowo Berseloroh soal Polri di Luar Kemenhan: Polisi Enggak Mau di Bawah Saya
Baca dalam 60 detik
- Presiden Prabowo melontarkan candaan tentang posisi Polri yang tidak berada di bawah Kementerian Pertahanan, berbeda dengan TNI, saat acara panen raya di Malang.
- Kelakar tersebut muncul saat ia bercerita tentang keputusannya memilih mobil Maung buatan Pindad ketimbang jip impor yang lebih murah.
- Candaan ini menyoroti perbedaan struktur kelembagaan Polri yang langsung di bawah presiden, sementara TNI berada di bawah Kemenhan.

Presiden Prabowo Subianto melontarkan candaan mengenai status kelembagaan Polri yang tidak berada di bawah Kementerian Pertahanan (Kemenhan), berbeda dengan TNI. Ucapan itu disampaikan di hadapan para petani dan aparat keamanan dalam acara panen raya bersama TNI di Malang, Jawa Timur, Jumat (17/7).
Dalam sambutannya, Prabowo yang pernah menjabat Menteri Pertahanan era Presiden Joko Widodo bercerita tentang pengalamannya saat ditawari dua pilihan kendaraan dinas: jip impor murah berkualitas atau mobil Maung buatan PT Pindad yang lebih mahal. Ia mengaku memilih Maung karena buatan anak bangsa, meski harganya lebih tinggi.
"Waktu saya Menteri Pertahanan, disodorkan, 'Pak, TNI,' waktu itu saya Menhan ya, jadi saya enggak bisa ngurus Polri, sorry, polisi enggak mau di bawah Menteri Pertahanan sih," kata Prabowo yang disambut tawa hadirin, termasuk Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dan Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto yang turut hadir.
Kelakar ini mengingatkan kembali pada struktur kelembagaan keamanan Indonesia. Polri secara organisasi berada langsung di bawah presiden, tidak di bawah kementerian mana pun. Sementara TNI, dalam hal administrasi dan perencanaan anggaran, berada di bawah Kemenhan. Perbedaan ini kerap menjadi bahan diskusi di kalangan pengamat keamanan, terutama terkait koordinasi penanganan keamanan dalam negeri.
Prabowo menegaskan bahwa keputusannya memilih Maung adalah bentuk dukungan terhadap industri pertahanan dalam negeri. "Yang sekarang dipakai perwira-perwira kita, sekarang pakai Maung," ujarnya. Mobil Maung buatan Pindad memang telah digunakan oleh sejumlah perwira TNI dan Polri sebagai kendaraan dinas lapangan.
Bagi pengamat keamanan, candaan Prabowo menyiratkan kesadaran akan perbedaan peran kedua lembaga. Namun, di sisi lain, hal ini juga menimbulkan pertanyaan mengenai efektivitas koordinasi antara Polri dan TNI di lapangan, terutama dalam operasi keamanan bersama. Beberapa pihak menilai bahwa struktur yang terpisah justru memperkuat check and balances, sementara yang lain menganggapnya sebagai hambatan birokrasi.
Ke depan, apakah akan ada wacana untuk menyatukan kembali komando keamanan di bawah satu kementerian? Atau justru mempertahankan status quo? Pertanyaan ini masih mengemuka di tengah upaya pemerintah memperkuat sinergi TNI-Polri.



