Kesalahan Dokumentasi dan Pembaruan Perangkat Lunak Diduga Jadi Biang Gangguan Jaringan Telstra
Baca dalam 60 detik
- CEO Telstra mengungkapkan bahwa gangguan jaringan massal pekan lalu dipicu oleh perubahan desain yang tidak terdokumentasi pada perangkat pengatur waktu jaringan.
- Insiden ini memutus layanan telepon, pembayaran nirkabel, dan perjalanan kereta, serta memicu penyelidikan Senat Australia.
- Kasus ini menambah daftar panjang gangguan telekomunikasi di Australia, termasuk kegagalan layanan darurat Optus yang diduga menyebabkan empat kematian.

Gangguan besar yang melanda Telstra, perusahaan telekomunikasi terbesar di Australia, pekan lalu dipicu oleh perubahan desain yang tidak tercatat pada perangkat sinkronisasi waktu jaringan dan kelalaian pembaruan perangkat lunak. Hal ini diungkapkan langsung oleh CEO Vicki Brady dalam sidang Senat Australia pada Jumat (17/7).
Insiden yang terjadi pada Rabu pekan lalu itu memutus layanan telepon bagi ribuan pelanggan, mengganggu sistem pembayaran nirkabel, dan melumpuhkan perjalanan kereta api. Ini merupakan gangguan terbaru dalam serangkaian insiden yang melanda sektor telekomunikasi Australia dalam beberapa tahun terakhir.
Dalam pernyataan pembukaannya di hadapan Senat, Brady menjelaskan bahwa pekerjaan pemeliharaan pada peralatan pengatur waktu dan sinkronisasi jaringan memicu konfigurasi perangkat lunak yang secara tidak sengaja mengatur ulang tanggal perangkat ke tahun 2006. Akibatnya, sertifikat autentikasi di seluruh jaringan Telstra gagal berfungsi, mengganggu layanan suara dan data, termasuk panggilan ke nomor darurat Triple Zero.
"Seandainya pembaruan perangkat lunak telah dilakukan atau perubahan desain telah ditinjau dan didokumentasikan dengan benar setelah insiden sebelumnya, serta tercermin dalam prosedur pemeliharaan, gangguan ini mungkin tidak akan terjadi," ujar Brady.
Gangguan Telstra ini terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran publik terhadap keandalan infrastruktur telekomunikasi Australia. Sebelumnya, Optus, operator terbesar kedua, mengalami gangguan layanan darurat selama 13 jam tahun lalu yang diduga menyebabkan empat kematian. Sebelumnya lagi, pada 2022, Optus menjadi korban serangan siber yang mengekspos data pribadi jutaan orang, dan pada 2023, gangguan besar membuat jutaan pelanggan kehilangan layanan telepon dan internet selama sehari penuh.
Bagi Indonesia, insiden ini menjadi pengingat pentingnya tata kelola perubahan sistem dan dokumentasi yang ketat di sektor telekomunikasi. Operator seperti Telkomsel, Indosat, dan XL Axiata yang mengelola jaringan besar dengan ribuan perangkat rentan terhadap risiko serupa. Kegagalan dalam mencatat perubahan konfigurasi atau melewatkan pembaruan perangkat lunak dapat menyebabkan gangguan layanan yang berdampak luas, termasuk pada layanan darurat dan sistem pembayaran digital yang makin marak digunakan.
Brady, yang bergabung dengan Telstra pada 2016 setelah sebelumnya bekerja di Optus milik Singtel, menegaskan bahwa investigasi internal akan fokus pada mengapa perubahan desain tidak didokumentasikan, mengapa pembaruan perangkat lunak tidak diselesaikan, dan apa yang perlu diubah dalam sistem pengendalian agar risiko yang diketahui dapat ditangkap, diprioritaskan, dan ditutup sebelum berdampak pada pelanggan.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah regulator telekomunikasi Australia, seperti Australian Communications and Media Authority (ACMA), akan memperketat aturan tentang manajemen perubahan dan dokumentasi teknis. Jika tidak, bukan tidak mungkin gangguan serupa akan kembali terjadi, mengingat kompleksitas jaringan yang terus bertambah seiring adopsi teknologi 5G dan Internet of Things.



