Dolar AS Tertekan Data Inflasi, Konflik Timur Tengah Jadi Penyelamat Sementara
Baca dalam 60 detik
- Indeks dolar AS berakhir flat pada Jumat (17/7) namun mencatat pelemahan mingguan 0,2% setelah data inflasi AS yang rendah meredam ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed.
- Ketegangan AS-Iran yang meningkat dan aksi jual saham global memicu permintaan safe-haven, membantu dolar pulih dari posisi terendah sebulan.
- Yen Jepang masih tertekan di dekat level terendah 40 tahun, dengan intervensi Tokyo mengintai, sementara dolar Australia dan sterling menguat di tengah sentimen risiko yang beragam.

Dolar AS nyaris tak bergerak pada akhir pekan lalu, namun secara mingguan justru melemah tipis setelah data inflasi Amerika Serikat yang lebih rendah dari perkiraan membuat pelaku pasar mengurangi taruhan akan kenaikan suku bunga Federal Reserve dalam waktu dekat. Indeks dolar yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama lainnya bertengger di level 100,76, turun 0,2 persen dalam sepekan.
Pelemahan dolar sepanjang pekan sejatinya lebih dalam—indeks sempat menyentuh titik terendah sebulan—namun arus modal safe-haven yang dipicu eskalasi konflik antara Iran dan Amerika Serikat berhasil menahan laju penurunan. Pertempuran sengit yang berlangsung selama sepekan terakhir praktis mengubur gencatan senjata yang disepakati bulan lalu, mendorong harga minyak mendekati level tertinggi sebulan dan memperkuat daya tarik dolar sebagai aset aman.
“Kejatuhan pasar saham global yang dipimpin saham teknologi dan gangguan lalu lintas di Selat Hormuz telah memicu pelarian ke aset aman,” ujar Elias Haddad, kepala strategi pasar global Brown Brothers Harriman. Menurutnya, dolar berhasil memulihkan sebagian kerugian pekan ini, sementara imbal hasil obligasi global sedikit turun.
Di kawasan Asia, yen Jepang masih terpuruk di kisaran 162,44 per dolar AS, tak jauh dari level terendah dalam 40 tahun yang disentuh awal bulan. Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama kembali mengingatkan kesiapan pemerintah untuk melakukan intervensi tegas, namun pelaku pasar meragukan efektivitas langkah tersebut. “Dari ancaman tindakan tegas, sepertinya intervensi sudah sangat dekat lagi. Tapi saya ragu dampaknya akan lebih besar dari sebelumnya,” kata Shaun Osborne, kepala strategis FX Scotiabank di Toronto.
Sementara itu, sterling justru mencatat pekan kenaikan ketiga berturut-turut meskipun pada Jumat melemah 0,2 persen ke $1,3455. Penguatan pound didorong data pertumbuhan ekonomi Inggris yang solid dan ekspektasi stabilitas politik setelah Perdana Menteri terpilih Andy Burnham dikabarkan akan menunjuk menteri keuangan dari kalangan sentris. Dolar Australia juga mengakhiri pekan dengan kenaikan mingguan ketiga, meski pada Jumat turun 0,23 persen ke $0,6980 seiring aksi jual saham global.
Di dalam negeri AS, data penjualan ritel Juni naik tipis karena harga bensin yang lebih rendah menekan pendapatan SPBU, namun belanja online melonjak tajam. Para ekonom pun menaikkan estimasi pertumbuhan kuartal kedua. Sentimen konsumen AS juga naik ke level tertinggi lima bulan, meskipun para pedagang memperingatkan bahwa pemulihan ini mungkin hanya sementara jika konflik Timur Tengah terus mendorong harga bensin naik.
Data inflasi AS yang mendingin pada Juni memperkuat keyakinan bahwa The Fed akan menahan suku bunga pada pertemuan akhir bulan ini. Namun para pembuat kebijakan enggan terlalu bergantung pada satu bulan perbaikan setelah berbulan-bulan inflasi bergerak ke arah yang salah. Peluang kenaikan suku bunga pada Juli kini hanya 14 persen, turun dari 25 persen pekan lalu, sementara pasar memperkirakan total kenaikan 30 basis poin hingga Desember. “Itu masih terlalu tinggi menurut saya,” ujar Osborne. “Kemungkinan besar puncak dolar sudah terlihat beberapa pekan lalu.”
Bagi Indonesia, pergerakan dolar AS yang tertekan dan potensi penundaan kenaikan suku bunga The Fed memberikan ruang bagi Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas rupiah tanpa tekanan eksternal yang berlebihan. Namun konflik Timur Tengah yang memicu kenaikan harga minyak tetap menjadi risiko utama, mengingat Indonesia masih menjadi importir minyak netto. Jika tensi geopolitik terus meningkat, tekanan inflasi dari sisi energi bisa kembali menguji ketahanan ekonomi domestik.
Ke depan, fokus pasar akan tertuju pada data inflasi AS berikutnya serta perkembangan konflik Iran-AS. Jika ketegangan mereda, dolar berpotensi kembali tertekan oleh ekspektasi suku bunga yang rendah. Sebaliknya, eskalasi lebih lanjut bisa memperkuat dolar dalam jangka pendek, namun juga meningkatkan volatilitas di pasar keuangan global. Pertanyaan besarnya: akankah The Fed tetap bertahan di tengah tekanan inflasi yang mereda dan ketidakpastian geopolitik yang meningkat?



