Legenda Kriket Sir Garfield Sobers Tutup Usia, Warisan Abadi Sang All-Rounder Terbaik
Baca dalam 60 detik
- Sir Garfield Sobers, yang dianggap sebagai pemain kriket all-round terhebat sepanjang masa, meninggal dunia pada usia 89 tahun di Barbados.
- Rekor 365 run tanpa kalah dan enam six dalam satu over menjadi puncak kariernya, menginspirasi generasi pemain kriket di Karibia dan dunia.
- Penghargaan Sir Garfield Sobers Trophy yang diberikan ICC setiap tahun memastikan namanya abadi dalam sejarah kriket.

Dunia kriket kehilangan salah satu ikon terbesarnya. Sir Garfield Sobers, legenda asal Barbados dan Hindia Barat, meninggal dunia pada usia 89 tahun, hanya beberapa hari sebelum ulang tahunnya yang ke-90. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam, namun warisannya sebagai all-rounder terbaik yang pernah ada akan terus dikenang.
Sobers, yang akrab disapa Sir Garry, memulai karier profesionalnya sejak usia 16 tahun bersama Barbados dan melakukan debut internasional untuk Hindia Barat setahun kemudian. Selama dua dekade (1954โ1974), ia mengukir rekor yang sulit ditandingi: 8.032 run dalam Tes dengan rata-rata 57,78, serta 235 wicket berkat kemampuannya memadukan kecepatan, finger spin, dan wrist spin. Angka-angka itu bukan sekadar statistik, melainkan cerminan dari fleksibilitas luar biasa yang jarang dimiliki pemain lain.
Salah satu momen paling bersejarah terjadi pada 1958 saat ia mencatatkan 365 run tanpa kalah melawan Pakistan di Sabina Park, Kingston. Rekor itu bertahan selama 36 tahun sebelum akhirnya dipecahkan oleh Brian Lara, sesama pemain Hindia Barat. Tak hanya itu, pada 1968, Sobers menjadi pemain pertama yang mencetak enam six dalam satu over di kriket kelas satu saat membela Nottinghamshire melawan Glamorgan. Aksi yang direkam kamera BBC itu hingga kini masih dikenang sebagai salah satu pencapaian paling spektakuler dalam olahraga ini.
Pujian mengalir dari berbagai tokoh. Piers Morgan, presenter asal Inggris, menyebut Sobers sebagai "pemain all-round terhebat yang pernah dilihat dunia, seorang fielder brilian, batsman agresif, dan bowler cepat sekaligus spin yang hebat." Sementara itu, Cricket West Indies dalam pernyataan resminya mengatakan, "Sebuah babak besar telah berakhir. Di hati kami, sekarang dan selamanya, Sir Garfield Sobers."
Bagi Indonesia, meski kriket bukan olahraga utama, kisah Sobers memberikan pelajaran tentang dedikasi dan keunggulan multi-dimensi. Di era di mana spesialisasi menjadi tren, Sobers membuktikan bahwa penguasaan berbagai keterampilan bisa membawa seseorang ke puncak. Warisannya juga mengingatkan bahwa olahraga mampu menyatukan bangsa-bangsa, terutama negara-negara berkembang seperti Indonesia yang tengah membangun ekosistem olahraga.
Di luar lapangan, Sobers juga menghadapi tragedi pribadi. Pada 1959, ia kehilangan sahabat dan rekan setimnya, Collie Smith, dalam kecelakaan mobil. Namun, ia bangkit dan terus bermain, bahkan mendapat undangan dari Sir Donald Bradmanโyang memujinya sebagai all-rounder terbaik yang pernah dilihatnyaโuntuk tampil di Australia. Bradman, legenda kriket Australia, jarang memberikan pujian setinggi itu, menunjukkan betapa istimewanya Sobers.
Penghargaan terus mengalir sepanjang hidupnya. Ia dinobatkan sebagai Wisden Cricketer of the Year pada 1964, termasuk dalam Five Cricketers of the Century versi Wisden, mendapat gelar kebangsawanan pada 1975, dan dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional Barbados pada 1998. Nama Sobers juga diabadikan dalam Sir Garfield Sobers Trophy, penghargaan tahunan ICC untuk pemain kriket pria terbaik dunia.
Kepergian Sobers menutup satu era, namun pertanyaan besarnya: akankah dunia kriket kembali melahirkan all-rounder sepertinya? Dengan semakin ketatnya persaingan dan tuntutan spesialisasi, tampaknya mustahil. Namun, seperti yang diajarkan Sobers, batasan hanya ada di pikiran.



