Mona Koh, 'Ratu Malam' Singapura yang Lumpuh Akibat Tembakan 1994, Tutup Usia
Baca dalam 60 detik
- Mona Koh, mantan mamasan papan atas yang lumpuh setelah ditembak pada 1994, meninggal karena gagal ginjal pada usia 80 tahun.
- Koh dikenal sebagai pelopor diskotek dengan manajemen perempuan pertama di Singapura dan tetap aktif sebagai mamasan di kursi roda.
- Kisah hidupnya menyoroti ketangguhan di tengah stigma dan kekerasan, serta menjadi pengingat akan sisi gelap industri hiburan malam.

Mona Koh, sosok legendaris di balik gemerlap klub malam Singapura yang lumpuh total setelah ditembak pada 1994, mengembuskan napas terakhir di kediamannya pada 15 Juli lalu akibat gagal ginjal. Usianya mencapai 80 tahun.
Dikenal sebagai "ratu klub malam", Koh adalah salah satu mamasan dengan bayaran tertinggi di Singapura pada era 1990-an. Namun, namanya justru melambung setelah peristiwa nahas pada 15 Oktober 1994, ketika ia ditembak dua kali di lobi lift Katong People's Complex, sebuah pusat perbelanjaan yang kini sudah tidak beroperasi. Peluru pertama mengenai wajahnya dan berhasil diangkat dari hidung, sementara peluru kedua bersarang di antara tulang belakang dan hati. Dokter menyatakan operasi pengangkatan peluru itu hanya memiliki tingkat keberhasilan 5 persen, sehingga peluru tersebut dibiarkan dan menyebabkan Koh lumpuh permanen dari pinggang ke bawah.
Koh memulai karier di dunia hiburan malam sebagai pemandu sosial sambilan setelah putus sekolah. Pada 1970, ia bergabung dengan sirkuit klub malam sebagai manajer, lalu naik pangkat menjadi mamasan. Puncaknya, pada 1983 ia mendirikan diskotek pertama di Singapura yang dikelola sepenuhnya oleh perempuan. Saat penembakan terjadi, Koh bekerja di Lido Palace Nite-Club yang berlokasi di Concorde Hotel, Outram Road.
Setelah penembakan, Koh tidak menyerah. Ia terus bekerja sebagai mamasan dari kursi roda. Seorang pengasuh yang merawat Koh selama hampir sembilan tahun menuturkan kepada Shin Min Daily News bahwa Koh menderita penyakit ginjal dan harus menjalani cuci darah tiga kali seminggu. Meski demikian, Koh tetap menikmati hidup: gemar makan, berbelanja, dan membeli kosmetik. Pengasuh itu memuji Koh sebagai majikan yang baik dan ramah terhadap pembantu rumah tangga.
Kisah Mona Koh menjadi cermin bagi industri hiburan malam di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Di Tanah Air, fenomena mamasan dan pekerja klub malam kerap dibayangi stigma dan risiko kekerasan serupa. Kasus Koh mengingatkan bahwa di balik gemerlap lampu diskotek, ada individu yang rentan terhadap tindak kriminal dan minim perlindungan hukum. Regulasi ketenagakerjaan di sektor informal, khususnya hiburan malam, masih lemah di banyak negara, termasuk Indonesia. Tak jarang pekerja perempuan menjadi sasaran kekerasan fisik dan psikologis tanpa jaminan keadilan.
Ungkapan duka dari halaman Facebook Death Kopitiam Singapore menggambarkan Koh sebagai sosok yang "membangun seluruh karier dan identitas dalam perdagangan yang keras dan tanpa ampun, selamat dari percobaan pembunuhan, dan terus melangkah." Pertanyaan yang tersisa: apakah industri hiburan malam di Asia Tenggara akan pernah benar-benar aman bagi para pekerjanya, ataukah kisah Mona Koh hanya akan menjadi catatan kaki sejarah tanpa perubahan berarti?



