Lena Headey Kecam Budaya Industri yang Melindungi Pelaku Kekerasan Seksual
Baca dalam 60 detik
- Aktris Game of Thrones, Lena Headey, mengecam sistem yang melindungi pelaku kekerasan seksual di Hollywood, terutama saat mempromosikan drama barunya tentang penyalahgunaan kekuasaan.
- Headey mengungkapkan bahwa meskipun gerakan #MeToo telah membawa perubahan, masih ada masalah yang belum terselesaikan, termasuk ketidakseimbangan kekuasaan yang merugikan aktris muda.
- Pengalamannya sendiri, termasuk tuduhan terhadap Harvey Weinstein, menunjukkan bagaimana industri film kerap mengorbankan keamanan aktris demi produksi.

Lena Headey, aktris yang dikenal luas sebagai Cersei Lannister dalam serial Game of Thrones, kembali menyuarakan kemarahannya terhadap budaya Hollywood yang dianggapnya melindungi para predator seksual. Dalam wawancara terbaru dengan The Telegraph, ia mengaitkan pengalaman pribadinya dengan ketimpangan kekuasaan yang masih menghantui industri hiburan global, terutama bagi aktris muda yang rentan.
Headey, 52 tahun, secara blak-blakan mengkritik mekanisme industri yang membiarkan pelaku kekerasan seksual terus berkarya. "Perlindungan aneh yang kita berikan pada pria predator di bisnis ini, karena kekuasaan tidak proporsional yang mereka miliki, berhadapan dengan kebutuhan aktris rentan yang harus bekerja untuk bertahan hidupโitu membuat saya sangat marah," ujarnya. Ia menambahkan bahwa satu orang beracun bisa merusak seluruh pengalaman kerja, dan seringkali pelaku dibiarkan lolos tanpa konsekuensi.
Pernyataan ini muncul saat Headey mempromosikan drama radio BBC terbarunya, Intimacy, yang mengangkat tema penyalahgunaan kekuasaan di lokasi syuting. Drama tersebut menjadi cermin bagi pengalamannya sendiri, termasuk tuduhan terhadap Harvey Weinstein yang pertama kali ia ungkap pada 2017. Saat itu, Headey mengaku mendapat komentar tidak senonoh dari Weinstein saat Festival Film Venesia, dan kemudian diundang ke kamar hotelnya dengan dalih membaca naskah.
Headey juga menyoroti perubahan yang dibawa gerakan #MeToo sejak 2017. Menurutnya, kesadaran akan masalah ini kini lebih meluas. "Saya pikir sebagian besar wanita muda yang saya ajak bicara sekarang sangat cerdas. Sikap mereka sekarang adalah, 'Saya tidak akan melakukan itu'," katanya. Namun, ia mengakui bahwa masih ada celah yang perlu diperbaiki, terutama dalam hal perlindungan bagi aktris yang baru memulai karier.
Headey juga merefleksikan masa awal kariernya, di mana ia merasa harus menerima adegan intim tanpa banyak bertanya. "Saat saya memulai, ada semacam ritus peralihan yang harus dilalui semua aktris muda, biasanya melibatkan ciuman, jatuh cinta, berhubungan seks, dan memperlihatkan payudara. Mereka menyebutnya peran 'ingenue' agar terdengar lebih bagus," kenangnya. Ia mengaku sering pulang dan menangis setelah syuting, meski saat itu tidak berani mempertanyakan keamanan dirinya.
Ketika mendapat peran sebagai Cersei Lannister, Headey merasa lebih mampu menetapkan batasan. Ia memilih menggunakan pemeran pengganti untuk adegan "walk of shame" di musim kelima Game of Thrones, yang menuai kritik dari sebagian penonton. "Saya sangat terkejut dengan kemarahan itu, gagasan bahwa saya telah menipu penonton," ujarnya. Menurut Headey, keputusan itu diambil agar ia bisa fokus pada aspek emosional akting tanpa harus bersikap defensif.
Bagi industri hiburan Indonesia, kasus ini menjadi pengingat bahwa isu perlindungan terhadap pekerja rentan, terutama perempuan, masih relevan. Meski gerakan #MeToo telah memicu diskusi global, implementasi kebijakan seperti kehadiran koordinator intim di lokasi syuting belum menjadi standar di banyak negara, termasuk Indonesia. Pertanyaan yang mengemuka: sejauh mana industri kreatif Tanah Air siap mengadopsi praktik serupa untuk melindungi para aktris dan kru dari potensi penyalahgunaan kekuasaan?



