Muka Air Bendung Katulampa Nol Sentimeter, Dasar Sungai Ciliwung Terlihat
Baca dalam 60 detik
- Tinggi muka air di Bendung Katulampa, Bogor, mencapai titik terendah 0 cm akibat kemarau panjang.
- Kondisi ini membuat dasar sungai dan sedimentasi tampak jelas, memicu rencana kerja bakti pengangkatan sedimen.
- Pengelola memprioritaskan aliran ke saluran irigasi Kali Baru untuk menjaga ekosistem di tengah krisis air.

Debit Sungai Ciliwung di Bendung Katulampa, Kota Bogor, menyusut drastis hingga tinggi muka air (TMA) menyentuh nol sentimeter selama dua hari terakhir. Kondisi ini merupakan dampak langsung dari minimnya curah hujan di kawasan hulu selama musim kemarau.
Petugas Bendung Katulampa, Subhan, mengonfirmasi bahwa TMA nol sentimeter masih bertahan hingga Jumat (16/7). "Sejak dua hari lalu ketinggiannya nol sentimeter, dan sampai sekarang masih bertahan," ujarnya. Surutnya debit air membuat batu-batu besar di dasar sungai terlihat jelas, pemandangan yang kontras dengan arus deras saat musim hujan.
Fenomena ini tidak hanya memperlihatkan batuan dasar, tetapi juga sedimentasi yang selama ini tertutup aliran air. Subhan menambahkan bahwa pihaknya berencana menggelar kerja bakti bersama warga dan komunitas untuk mengangkat endapan sedimen. "Di kondisi ini sedimentasi jadi kelihatan, biasanya kita gotong royong untuk menggali sedimennya," katanya.
Penyusutan debit air dipicu oleh jarangnya hujan di kawasan Puncak, Bogor, dalam dua pekan terakhir. Subhan menjelaskan bahwa sejak Juni, intensitas hujan sudah menurun drastis. "Seminggu ini belum ada hujan sama sekali, sehingga pasokan air ke bendung terus berkurang," ungkapnya.
Di tengah krisis air, pengelola Bendung Katulampa memprioritaskan aliran dari hulu untuk dialirkan ke Sungai Kali Baru melalui saluran irigasi. Langkah ini diambil untuk mencegah kekeringan total dan menjaga ekosistem di kawasan tersebut. "Kita utamakan penggelontoran air ke Kali Baru agar ekosistem sungai tidak kering," ujar Subhan.
Kondisi ini menjadi alarm bagi pengelolaan sumber daya air di wilayah Bogor dan Jakarta. Ketergantungan pada pasokan dari hulu membuat daerah hilir rentan saat kemarau. Jika hujan tidak segera turun, bukan tidak mungkin aliran Sungai Ciliwung akan semakin menyusut, mengancam pasokan air baku dan ekosistem sungai.
Pertanyaan yang mengemuka adalah: apakah langkah pengalihan air ke Kali Baru cukup untuk menjaga keseimbangan ekosistem, atau justru akan memicu konflik kepentingan antara kebutuhan irigasi dan kebutuhan domestik? Musim kemarau tahun ini menguji kesiapan pemerintah daerah dalam mengelola krisis air secara terpadu.



