Skor Tinggi Jadi Keniscayaan: Townsend Siap Hadapi 'Pesta Tries' Lawan Fiji
Baca dalam 60 detik
- Pelatih Skotlandia Gregor Townsend mengakui bahwa laga melawan Fiji berpotensi menjadi pertandingan dengan skor tinggi, mengikuti tren rugby modern yang lebih menguntungkan serangan.
- Skotlandia mencetak 21 tries dalam empat laga terakhir, tetapi kebobolan 163 poin dan menelan dua kekalahan, menunjukkan ketidakseimbangan antara serangan dan pertahanan.
- Townsend memperingatkan bahwa meski Fiji bukan tim peringkat atas, mereka adalah tim paling berbahaya jika lawan lengah, terutama dalam transisi cepat.

Gregor Townsend, pelatih kepala tim nasional rugby Skotlandia, tidak akan terlalu risau jika laga Nations Championship melawan Fiji akhir pekan ini kembali berubah menjadi pesta tries. Yang lebih penting baginya adalah Skotlandia keluar sebagai pemenang. Sikap ini mencerminkan realitas rugby modern, di mana serangan sering kali mendominasi pertahanan.
Dalam empat pertandingan terakhir, Skotlandia berhasil mencetak 21 triesโsebuah pencapaian impresifโtetapi di sisi lain mereka kebobolan 163 poin dan dua kali kalah. Tiga dari laga tersebut dimainkan tandang melawan raksasa seperti Prancis, Irlandia, Argentina, dan Afrika Selatan. "Saya pikir ini adalah sifat dari permainan saat ini," ujar Townsend, merujuk pada fakta bahwa juara Six Nations, Prancis, pun kebobolan 96 poin dalam dua pekan terakhir turnamen.
Fenomena ini, menurut Townsend, justru menjadi sisi positif dari olahraga tersebut. "Serangan saat ini terlalu sulit dibendung oleh pertahanan," katanya. Namun, ia juga mengakui bahwa Skotlandia perlu mengurangi jumlah poin yang mereka berikan kepada lawan. "Kami jelas ingin mengurangi poin yang dicetak lawan dan meningkatkan poin yang kami cetak," tambahnya dengan nada realistis.
Menghadapi Fiji, Townsend melakukan rotasi besar-besaran dengan 14 perubahan pemain dari laga sebelumnya. Ia mengambil sisi positif dari kekalahan 42-28 melawan Afrika Selatan di Pretoria pekan lalu, terutama soal ketahanan tim saat tertinggal dua kali. "Namun ada momen di mana kami kehilangan fokus, baik dalam serangan maupun pertahanan," aku Townsend. "Saat melawan tim terbaik seperti Afrika Selatan, momen kecil seperti itu bisa berakibat fatal."
Fiji sendiri datang ke Edinburgh dengan catatan kurang meyakinkan: kalah 39-24 dari Wales dan dihancurkan 73-8 oleh Inggris. Meski demikian, Townsend menaruh respek tinggi. "Mereka mungkin bukan tim peringkat satu dunia, tapi mereka adalah tim paling berbahaya jika Anda lengah," tegasnya. Ia memperingatkan bahwa bahaya bisa datang dari jarak 50 yard, karena Fiji mampu memindahkan bola dengan cepat dan berlari dari garis pertahanan sendiri.
Bagi penggemar rugby di Indonesia, laga ini menjadi tontonan menarik untuk menyaksikan bagaimana tim dengan serangan eksplosif seperti Fiji dihadang oleh Skotlandia yang juga gemar mencetak tries. Pertandingan ini juga menjadi ujian bagi konsistensi Skotlandia, yang kerap tampil brilian namun rentan terhadap kejutan. Akankah Townsend berhasil membawa timnya meraih kemenangan tanpa harus terjebak dalam pertarungan skor tinggi? Atau justru Fiji yang akan memanfaatkan kelengahan Skotlandia? Laga di Murrayfield akan menjadi jawabannya.



