Rapat DPRD Riau Ricuh: Anggota Golkar Saling Pukul, Pimpinan Pusat Minta Maaf
Baca dalam 60 detik
- Dua anggota Fraksi Golkar di DPRD Riau terlibat baku hantam saat rapat Banggar, memicu kecaman dari pimpinan partai.
- Wakil Ketua Umum Golkar Ahmad Doli Kurnia menyebut insiden itu memalukan dan mencederai citra partai serta lembaga legislatif.
- Partai Golkar menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat Riau dan berjanji akan memanggil kedua kader untuk mediasi.

Rapat pembahasan anggaran di DPRD Riau berubah menjadi arena pertikaian fisik antaranggota dewan. Kamis (16/7) siang, dua kader Partai Golkar—Wakil Ketua DPRD Parisman Ikhwan dan Ketua Komisi V Indra Gunawan—terlibat cekcok mulut yang berujung saling lempar dan pukul di kompleks gedung DPRD Pekanbaru. Insiden ini sontak menjadi perhatian publik setelah video amatir beredar luas di media sosial.
Menurut sejumlah saksi, kericuhan dipicu oleh perdebatan sengit dalam Rapat Badan Anggaran (Banggar) yang berlangsung sejak pukul 14.30 WIB. Kedua politikus yang sama-sama berasal dari Fraksi Golkar itu awalnya berselisih pendapat mengenai alokasi anggaran daerah. Suasana memanas ketika Indra Gunawan, yang akrab disapa Eet, disebut-sebut memojokkan Parisman. Tak lama setelah rapat usai, emosi memuncak dan beberapa benda melayang di antara kedua kubu. “Ada yang kena lempar, ada yang mau kena pukul,” ujar seorang saksi mata kepada detikSumut.
Ketua DPRD Riau Kedersimanto membenarkan bahwa situasi sempat tegang, namun ia memastikan kondisi kini telah kondusif. Menurutnya, pertikaian murni akibat kesalahpahaman antarkedua anggota dewan. Meski demikian, insiden ini dinilai mencoreng wajah parlemen daerah yang seharusnya menjadi contoh dalam menyelesaikan perbedaan secara dewasa.
Reaksi keras datang dari pimpinan pusat Partai Golkar. Wakil Ketua Umum Ahmad Doli Kurnia mengecam tindakan kedua kadernya dan menyebutnya “memalukan”. Dalam pernyataan resminya, Jumat (17/7), Doli menegaskan bahwa wakil rakyat seharusnya memberikan teladan, bukan justru terlibat keributan di depan publik. “Semua persoalan bisa diselesaikan dengan akal sehat, rasional, dan dialog, bukan dengan emosi apalagi adu fisik,” katanya.
Doli mengaku telah mendalami kronologi kejadian. Ia menduga keributan bermula dari sikap Indra Gunawan yang dianggap menekan Parisman dalam forum rapat. “Saudara Parisman kemudian terpancing emosi,” ujarnya. Ia menyayangkan kedua kader tidak mampu menjaga soliditas dan marwah partai, apalagi di hadapan anggota DPRD lain dan publik yang menyaksikan langsung.
Sebagai langkah awal, Doli menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada masyarakat, khususnya warga Riau. “Atas nama Partai Golkar saya menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat yang pasti tidak nyaman melihat peristiwa tersebut,” ucapnya. Ia juga mendesak pimpinan Golkar di Riau segera memanggil kedua kader untuk menyelesaikan persoalan secara internal, tanpa melibatkan kelompok pendukung masing-masing.
Insiden ini menambah daftar panjang perilaku kontroversial anggota dewan di Indonesia. Dalam beberapa tahun terakhir, adu fisik antaranggota DPRD kerap terjadi, mulai dari saling lempar kursi hingga perkelahian di ruang rapat. Fenomena ini memicu pertanyaan publik tentang efektivitas kode etik dan mekanisme pengawasan internal partai. Akankah permintaan maaf dan pemanggilan internal cukup untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap institusi legislatif?



