Siap Mundur dari Lapangan: Kapten Inggris Ancam Walk Out Jika Rasisme Terulang di Argentina
Baca dalam 60 detik
- Kapten timnas rugby Inggris, Jamie George, menyatakan timnya siap meninggalkan lapangan jika pemain kembali menjadi sasaran pelecehan rasial saat bertanding melawan Argentina.
- Insiden serupa terjadi pada kemenangan Inggris di San Juan tahun lalu, namun World Rugby gagal mengidentifikasi pelaku meski telah mengutuk kejadian tersebut.
- Langkah ini menjadi preseden baru dalam olahraga global, mendorong federasi dan pemain untuk mengambil sikap tegas terhadap diskriminasi di luar mekanisme resmi.

Kapten tim nasional rugby Inggris, Jamie George, mengungkapkan bahwa skuadnya tengah mempertimbangkan langkah drastis: meninggalkan lapangan pertandingan jika ada pemain yang kembali menjadi korban pelecehan rasial saat menghadapi Argentina, Sabtu (14/7) mendatang. Pernyataan ini muncul di tengah memanasnya tensi jelang laga uji coba di Santiago del Estero, Argentina.
Keputusan tersebut bukan tanpa alasan. Pada pertemuan terakhir kedua tim di San Juan tahun lalu, kemenangan Inggris ternoda oleh aksi rasisme yang menyasar dua pemain pengganti, Asher Opoku-Fordjour dan Chandler Cunningham-South. World Rugby, sebagai badan pengatur, telah mengutuk insiden itu, namun hingga kini tidak berhasil mengidentifikasi satu pun pelaku. Kegagalan investigasi inilah yang mendorong Inggris untuk menyiapkan 'rencana B' yang lebih konkret.
โKami sudah berdiskusi tentang skenario 'bagaimana jika'. Saya sangat berharap โ dan optimistis โ bahwa Persatuan Rugby Argentina telah menangani masalah ini dengan serius. Namun di saat yang sama, kami punya rencana cadangan jika hal itu tidak terjadi,โ ujar George, yang akan memimpin tim untuk kali ke-111. Langkah pertama, menurut George, adalah melaporkan kejadian kepada wasit agar tercatat secara resmi dan protokol dapat berjalan. Namun, tindakan lebih lanjut di luar itu masih terus dimatangkan.
George, yang turut hadir dalam laga kontroversial tahun lalu meski tidak bermain, mengaku kejadian itu membekas dalam ingatannya. โItu adalah sesuatu yang akan saya ingat seumur hidup โ meskipun tidak ditujukan kepada saya. Pelecehan itu diarahkan ke rekan setim, dan saya peduli pada mereka lebih dari apa pun,โ katanya. Ia menambahkan bahwa akan terus berdialog dengan sekelompok pemain dari latar belakang etnis berbeda untuk menyusun strategi yang tepat.
Ketegangan antara kedua tim sebenarnya sudah terlihat sejak pertemuan terakhir di November lalu. Saat itu, pelatih Argentina Felipe Contepomi menuduh pemain Inggris Tom Curry sebagai 'pengganggu' yang menghinanya dan mendorongnya di lorong stadion. Suasana semakin panas dengan latar belakang euforia sepak bola Argentina setelah Lionel Messi membawa timnasnya ke semifinal Piala Dunia. Atmosfer di Santiago del Estero diprediksi akan sangat bergairah dan emosional.
Bagi Indonesia, langkah Inggris ini menjadi pelajaran penting dalam upaya memberantas diskriminasi di olahraga. Di dalam negeri, kasus rasisme di sepak bola dan olahraga lain masih kerap terjadi, namun jarang mendapat respons tegas dari pemain atau ofisial. Sikap walk out yang direncanakan Inggris bisa menjadi referensi bagi atlet Indonesia untuk berani mengambil sikap serupa, sekaligus mendorong federasi olahraga nasional untuk memiliki protokol anti-diskriminasi yang lebih jelas dan mengikat.
Pertanyaannya, apakah langkah kontroversial ini akan benar-benar dijalankan? Atau justru akan memicu perubahan kebijakan di level World Rugby untuk memberikan sanksi yang lebih berat bagi pelaku rasisme? Yang jelas, Inggris telah menempatkan diri sebagai garda depan dalam perang melawan diskriminasi di dunia rugby, dan semua mata kini tertuju pada lapangan di Santiago del Estero.



