Dua Pegolf Ukir Sejarah di The Open: Herbert Gigit Jari, Burns Pesta
Baca dalam 60 detik
- Lucas Herbert dan Sam Burns sama-sama mencatatkan skor 62 di Royal Birkdale, menyamai rekor mayor pria, namun dengan akhir yang kontras.
- Herbert gagal menjadi pemain pertama yang membukukan 61 setelah bogey di hole terakhir, sementara Burns menutup rondenya dengan birdie spektakuler dari bunker.
- Pencapaian ini menambah daftar skor 62 di turnamen mayor yang kian sering terjadi, menandai pergeseran standar keunggulan di golf pria.

Dua pegolf menorehkan catatan bersejarah di Royal Birkdale dalam rentang waktu 20 menit, namun ekspresi di green ke-18 menunjukkan dua sisi koin yang bertolak belakang. Lucas Herbert dari Australia harus mengubur mimpinya menjadi manusia pertama yang menembus skor 61 di turnamen mayor setelah gagal dalam putt par sepanjang lima kaki. Sementara itu, Sam Burns dari Amerika Serikat justru merayakan birdie dari bunker yang mengantarkannya pada skor delapan-under-par yang sama.
Herbert, yang mengaku sebagai "penggila golf", mengetahui betul peluang emas yang terlepas. Bogey di hole terakhir membuatnya harus puas dengan skor 62, menyamai rekor yang sebelumnya dipegang oleh Branden Grace (2017) dan beberapa nama lain. Namun, pegolf LIV Golf itu memilih melihat sisi positif: ia memimpin klubhouse dengan total delapan-under par. "Saya merasakan banyak emosiโlega, bangga, kecewa. Tapi ini posisi bagus untuk akhir pekan dan nama saya tercatat dalam buku rekor," ujarnya kepada BBC Radio 5 Live.
Burns, yang memulai hari dengan tiga-over par, justru tidak menyadari besarnya momen tersebut. "Saya tidak tahu 62 adalah rekor. Sama sekali tidak," kata Burns setelah rondenya. Birdie dramatis dari bunker membuatnya melompat kegirangan, disambut sorak sorai penonton. Kini ia berada di posisi lima-under, tertinggal tiga pukulan dari Herbert, sementara pemimpin semalam Jackson Suber berada di tengah dengan enam-under.
Kontras nasib keduanya mencerminkan betapa tipisnya garis antara sejarah dan penyesalan. Herbert, yang tampil di The Open untuk keenam kalinya, nyaris menciptakan rekor baru setelah hanya membutuhkan par di hole ke-18. Namun, hole tersulit di putaran kedua itu menjebaknya. Pukulan tee-nya melenceng ke kanan, nyaris out-of-bounds, dan ia harus merelakan peluang emas. "Tidak ada yang memberi tahu, tapi saya pasti tahu. Saya berusaha tetap fokus dan tidak memikirkan rekor," katanya.
Fenomena skor rendah di turnamen mayor kian marak. Setelah Branden Grace memecahkan tembok 63 pada 2017, kini 62 menjadi angka yang mulai sering terlihat. Tahun lalu, Rickie Fowler dan Xander Schauffele sama-sama mencatat 62 di US Open. Schauffele mengulanginya di PGA Championship 2024 bersama Shane Lowry. Pola berpasangan ini menunjukkan bahwa standar keunggulan golf pria terus bergeser, seiring dengan peningkatan peralatan, kondisi lapangan, dan kebugaran atlet.
Bagi Indonesia, meski belum ada wakil di ajang ini, perkembangan golf global tetap relevan. Semakin banyaknya skor rendah di turnamen mayor membuka peluang bagi pegolf Asia, termasuk Indonesia, untuk bersaing di level tertinggi. Dengan teknik dan persiapan yang tepat, bukan tidak mungkin suatu saat nama pegolf Tanah Air akan tercatat dalam buku rekor The Open. Pertanyaannya, mampukah mereka memanfaatkan momentum ketika peluang sejarah datang?



