Andy Burnham Akhirnya Puncaki Panggung: Jalan Berliku Menuju PM Inggris
Baca dalam 60 detik
- Andy Burnham memenangkan pemilihan pemimpin Partai Buruh pada percobaan ketiga dan akan menjadi perdana menteri Inggris ke-59.
- Kemenangan ini dipicu oleh krisis popularitas Keir Starmer, perubahan aturan internal partai, dan keberuntungan politik.
- Burnham dianggap sebagai penyelamat bagi anggota parlemen Buruh yang terancam kehilangan kursi akibat tekanan dari Reform UK dan Partai Hijau.

Andy Burnham akhirnya menapaki puncak karier politiknya setelah tiga kali mencoba memimpin Partai Buruh. Dalam pidato kemenangan di konferensi khusus di London, ia berjanji mengembalikan harapan dan menjadi pemimpin bagi seluruh bangsa di Britania Raya. Pekan depan, ia akan resmi menjadi perdana menteri ke-59 Inggris, menggantikan Keir Starmer yang popularitasnya merosot tajam.
Perjalanan Burnham menuju kursi nomor satu di Downing Street bukanlah tanpa hambatan. Pada 2010, ia mencalonkan diri untuk pertama kali sebagai kandidat sayap Blairite, namun hanya menjadi penanda. Lima tahun kemudian, ia kembali maju tetapi tak mampu membendung gelombang Jeremy Corbyn. Baru pada 2026, momentum berpihak padanya. Kunci keberhasilannya terletak pada kombinasi faktor internal partai, perubahan aturan, dan situasi politik yang unik.
Partai Buruh kembali berkuasa pada 2024 dengan mayoritas besar, tetapi hanya meraih sepertiga suara total. Dalam hitungan bulan, pemerintahan Starmer dilanda krisis demi krisis. Jajak pendapat menunjukkan Starmer menjadi perdana menteri paling tidak populer sejak catatan modern dimulai. Pada saat bersamaan, partai menghadapi tekanan dari Reform UK di sayap kanan radikal dan Partai Hijau di sayap kiri. Basis pemilih Buruh mulai tercerai-berai, terbukti dari kekalahan telak di pemilu lokal dan devolusi Mei 2026, termasuk kehilangan Wales untuk pertama kalinya dalam lebih dari seabad.
Dalam situasi genting itu, spekulasi untuk menantang Starmer menguat. Namun, mengapa Burnhamโyang dua kali ditolak partaiโtiba-tiba menjadi satu-satunya kandidat kuat? Analis politik menunjuk pada perubahan sistem pemilihan pemimpin partai. Sejak 2013, pemimpin dipilih melalui pemungutan suara langsung anggota, dengan tiga kategori: anggota biasa, anggota afiliasi (serikat buruh), dan pendukung terdaftar. Namun menjelang 2026, dua perubahan signifikan terjadi: kategori pendukung terdaftar dihapus, dan ambang batas nominasi dinaikkan dari 12,5% menjadi 20% anggota parlemen Buruh. Perubahan ini secara efektif memblokir kandidat dari sayap kiri keras, memberi keuntungan bagi sayap kiri lunak tempat Burnham bernaung.
Struktur persaingan dalam tiga kontestasi Burnham juga sangat berbeda. Pada 2010, ia bukan pesaing serius; pertarungan sesungguhnya terjadi antara kakak-beradik Miliband. Pada 2015, ada empat kandidat: Burnham, Corbyn (sayap kiri keras), serta Liz Kendall dan Yvette Cooper (sayap kanan). Burnham saat itu sempat dianggap unggulan, tetapi ia salah membaca arah partai. Ia mengira partai akan bergerak ke kanan setelah kekalahan 2015, sehingga ia ikut bergeser. Kenyataannya, partai berbelok ke kiri, dan Corbyn menyapu suara sayap kiri, termasuk dari kalangan soft left. Pelajaran berharga itu membuat Burnham, setelah meninggalkan parlemen dan menjadi wali kota Greater Manchester, mengadopsi posisi soft left secara konsisten.
Dalam pemilihan kali ini, keberuntungan juga berpihak. Angela Rayner, tokoh populer dari sayap kiri lunak, terpaksa mundur sebagai wakil perdana menteri dan wakil ketua partai karena masalah pajak. Jika tidak, ia mungkin menjadi kandidat terdepan. Ed Miliband, yang bekerja erat dengan Burnham, memilih tidak maju karena memiliki pandangan yang sama. Sementara Wes Streeting dari sayap kanan sadar bahwa meskipun berhasil mengumpulkan 81 nominasi yang dibutuhkan, ia tak akan mampu mengalahkan Burnham dalam kontestasi langsung. Streeting pun memilih mundur.
Dari sisi personal, Burnham memiliki dua keunggulan. Pertama, popularitasnya di kalangan konstituen Greater Manchester sangat tinggi. Secara umum, ia selalu mendapat rating positif lebih baik dibanding politisi Buruh lainnya. Kedua, keberaniannya mengambil risiko dengan maju di daerah pemilihan Makerfield, yang setiap ward-nya dimenangkan Reform UK pada pemilu lokal. Kemenangan telak Burnham dalam pemilu sela di sana membuktikan daya tarik massalnya. Bagi ratusan anggota parlemen Buruh yang ketakutan kehilangan kursi, Burnham menjadi satu-satunya penyelamat.
Kemenangan Burnham menjadi pelajaran penting bagi politik Inggris: di tengah fragmentasi elektoral, figur yang mampu merangkul sayap kiri lunak dan memiliki rekam jejak elektoral kuat bisa menjadi magnet pemilih. Pertanyaan selanjutnya, mampukah Burnham menyatukan kembali partai yang terpecah dan mengembalikan kepercayaan publik? Ataukah ia hanya akan menjadi perdana menteri sementara di tengah badai politik yang masih berkecamuk?



