Rugbi Argentina Tumbuh di Bayang-Bayang Messi: Dari Amatir ke Panggung Dunia
Baca dalam 60 detik
- Pelatih Felipe Contepomi menyebut rugbi amatir Argentina mengalami ledakan pemain, meski sepak bola tetap menjadi 'agama' di negara tersebut.
- Tanpa klub profesional, Argentina tetap mampu melahirkan pemain kelas dunia berkat jalur pengembangan Super Rugby Americas.
- Argentina mengincar status empat besar dunia secara konsisten dan mengajukan diri menjadi tuan rumah Piala Dunia Rugbi 2035.

Di tengah hiruk-pikuk demam Lionel Messi yang membawa Argentina ke final Piala Dunia 2022, olahraga lain justru tumbuh tanpa banyak sorotan: rugbi. Tim nasional Los Pumas, yang akan menjamu Inggris akhir pekan ini di Santiago del Estero, telah mencapai semifinal Piala Dunia Rugbi dalam tiga dari lima edisi terakhir. Prestasi itu, menurut pelatih Felipe Contepomi, menjadi katalis ledakan rugbi amatir di negara yang mengidolakan sepak bola.
"Rugbi amatir di sini sedang booming," kata Contepomi kepada BBC Sport. "Ini rugbi berbasis komunitas, klub-klub terus bertambah, dan setiap tahun jumlah pemain meningkat." Namun, ia mengakui sepak bola tetap tak tergoyahkan. "Saya selalu bilang, rugbi adalah olahraga, sepak bola adalah agama bagi orang Argentina. Dimensinya benar-benar berbeda."
Fenomena ini menarik karena Argentina tidak memiliki klub rugbi profesional. Tim Jaguares sempat berlaga di Super Rugby (2016โ2020) sebelum bubar akibat masalah finansial. Sejak 2019, Super Rugby Americas โ kompetisi semi-profesional โ menjadi jalur utama pembibitan pemain. Contepomi mencatat, dalam dua tahun terakhir sekitar 20 pemain dari liga itu berhasil menembus tim nasional. Salah satu contoh sukses adalah Joaquin Moro, pemain back-row Leicester Tigers yang memulai karier dari Pampas XV.
Perjalanan Los Pumas tidak selalu mulus. Mereka hanya memiliki tiga sesi latihan bersama sebelum dikalahkan Skotlandia di Nations Championship karena para pemain tersebar di klub-klub belahan bumi utara dan selatan. "Itulah tantangan dan realitas kami," ujar Contepomi. "Kami tidak menjadikannya alasan. Kami harus memanfaatkannya sebaik mungkin." Target jangka panjangnya jelas: menembus empat besar peringkat dunia secara konsisten, bukan hanya saat Piala Dunia.
Laga melawan Inggris kali ini sarat emosi. Pertemuan November lalu diwarnai insiden panas antara Contepomi dan pemain Inggris Tom Curry. Contepomi sempat menyebut Curry sebagai "bully" setelah insiden di lorong stadion. Kini, ia melunak. "Tom Curry adalah pemain kelas dunia. Jika ada yang saya katakan menyakiti atau menyinggung perasaannya, saya minta maaf secara terbuka. Itu hanya insiden sesaat."
Argentina juga tengah mengajukan diri menjadi tuan rumah Piala Dunia Rugbi 2035. Jika berhasil, cinta warga terhadap rugbi bisa meledak lebih besar lagi. Namun, untuk mewujudkannya, Los Pumas harus mulai memenangi laga-laga besar seperti melawan Inggris. Akankah dukungan publik di kandang sendiri menjadi pembeda?



