IHSG Melonjak 1,3% Dekati 6.200, Saham Bank Jadi Motor Utama
Baca dalam 60 detik
- IHSG ditutup menguat 1,32% ke 6.188,33 pada sesi pertama perdagangan Jumat (17/6), didorong oleh aksi beli saham perbankan jumbo.
- Empat bank besarโBMRI, BBRI, BBNI, BBCAโmenyumbang lebih dari 50 poin indeks, mengimbangi tekanan dari saham DCI Indonesia.
- Sentimen positif datang dari realisasi investasi semester I-2026 yang mencapai Rp1.010,6 triliun dan peresmian proyek gas Blok Masela senilai Rp390 triliun.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil membalikkan tekanan awal dan melesat 1,32% pada akhir sesi pertama perdagangan Jumat (17/6/2026), mendekati level psikologis 6.200. Pergerakan ini dipicu oleh aksi beli besar-besaran di sektor perbankan yang mengangkat indeks dari posisi terendah harian di 6.079.
Data perdagangan mencatat, IHSG ditutup di 6.188,33 dengan nilai transaksi mencapai Rp9,72 triliun. Sebanyak 329 saham berhasil mencatatkan penguatan, sementara 266 saham tertekan dan 187 lainnya stagnan. Volume perdagangan mencapai 19,72 miliar saham dalam 1,48 juta kali transaksi.
Sektor finansial dan energi menjadi penopang utama indeks, menurut data Refinitiv. Saham-saham bank jumbo mencatatkan kenaikan signifikan: Bank Mandiri (BMRI) naik 3,71%, Bank Rakyat Indonesia (BBRI) melesat 4,55%, Bank Negara Indonesia (BBNI) menguat 3,14%, dan Bank Central Asia (BBCA) terapresiasi 3,61%. Keempat emiten ini berkontribusi lebih dari 50 poin terhadap kenaikan IHSG.
Di sisi lain, saham DCI Indonesia (DCII) masih menjadi pemberat utama dengan koreksi 3,94% meskipun volume transaksi hanya 1 lot. DCII membebani indeks sebesar 7,94 poin. Fenomena ini menunjukkan bahwa pergerakan IHSG sangat dipengaruhi oleh saham berkapitalisasi besar, sementara saham lapis kedua cenderung bervariasi.
Sentimen positif dari dalam negeri turut mendorong optimisme pelaku pasar. Pemerintah melalui Kementerian Investasi dan Hilirisasi melaporkan realisasi investasi semester I-2026 mencapai Rp1.010,6 triliun, tumbuh 7,2% year-on-year. Menteri Investasi Rosan Roeslani menyatakan capaian ini setara 49,5% dari target tahunan Rp2.041,3 triliun, sehingga target tahunan dinilai masih realistis. Realisasi investasi tersebut juga menyerap 1,44 juta tenaga kerja, meningkat 15% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Tak hanya itu, Presiden Prabowo Subianto meresmikan proyek gas raksasa Lapangan Abadi di Blok Masela, Maluku, pada Kamis (16/7). Proyek senilai US$20,95 miliar (Rp390 triliun) ini dikelola konsorsium Inpex, Pertamina, dan Petronas. Setelah tertunda hampir 28 tahun, proyek ini diproyeksikan memproduksi 9,5 juta ton LNG per tahun, 150 MMSCFD gas pipa, dan 35.000 barel kondensat per hari. Blok Masela juga akan dilengkapi teknologi Carbon Capture and Storage (CCS) dan diperkirakan menyerap hingga 10.000 tenaga kerja, menjadikannya salah satu pusat energi bersih terbesar di Indonesia Timur.
Di level global, rilis data pasar tenaga kerja dan konsumsi ritel Amerika Serikat mengonfirmasi ketahanan ekonomi AS, yang turut mendukung sentimen pasar. Namun, perhatian dunia mulai beralih ke puncak Piala Dunia 2026 akhir pekan ini, yang berpotensi mengalihkan fokus investor.
Dengan momentum positif dari dalam negeri dan dukungan data makro global, IHSG berpeluang melanjutkan penguatan menuju level 6.200. Namun, investor tetap perlu mencermati potensi tekanan dari saham-saham berkapitalisasi kecil dan perkembangan geopolitik global. Akankah reli ini bertahan hingga akhir pekan?



