Konflik AS-Iran Kian Memanas, Harga Minyak Meroket ke Level Tertinggi dalam Sebulan
Baca dalam 60 detik
- Brent dan WTI masing-masing naik 11,9% dalam sepekan, didorong eskalasi militer AS-Iran yang mengancam jalur distribusi minyak global.
- Ancaman penutupan Selat Hormuz dan Laut Merah oleh Iran serta Houthi memperluas risiko pasokan, memicu kekhawatiran krisis energi global.
- Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak berpotensi memperberat beban subsidi energi dan menekan nilai tukar rupiah jika tren berlanjut.

Harga minyak mentah dunia kembali mencatatkan reli signifikan pada perdagangan Jumat (17/7/2026) pagi, didorong oleh eskalasi konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran yang semakin tidak terkendali. Brent naik 0,99% ke US$85,06 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) menguat 1,18% ke US$79,88 per barel, memperpanjang kenaikan sepanjang pekan ini hingga hampir 12%.
Ketegangan di Timur Tengah mencapai titik baru setelah gencatan senjata yang disepakati bulan lalu praktis runtuh. Militer AS melancarkan dua gelombang serangan udara besar dalam sehari pada Rabu lalu, menyasar target di dekat pesisir selatan Iran, dan berlanjut hingga Kamis. Komando Pusat AS mengonfirmasi serangan terhadap kemampuan militer Iran telah memasuki malam keenam berturut-turut. Iran membalas dengan meluncurkan rudal dan drone ke pangkalan militer AS di Yordania dan kawasan lainnya.
Kekhawatiran pasar semakin memuncak setelah tiga sumber Reuters mengungkapkan bahwa Teheran meminta kelompok Houthi di Yaman bersiap menutup jalur pelayaran Laut Merah jika AS menyerang infrastruktur kelistrikan Iran. Ancaman ini menambah daftar panjang risiko pasokan global, setelah sebelumnya Selat Hormuz—yang dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dunia—sudah dalam status siaga tinggi. Laut Merah merupakan koridor vital bagi pengiriman minyak dari Timur Tengah ke Eropa melalui Terusan Suez.
Direktur Eksekutif International Energy Agency (IEA) Fatih Birol mengingatkan bahwa keamanan pasokan energi masih menjadi persoalan utama yang perlu diwaspadai. Menurutnya, jika situasi geopolitik tidak membaik dalam beberapa pekan ke depan, risiko gangguan pasokan akan semakin nyata. Analis IG menilai secara teknikal, selama WTI mampu bertahan di area pertengahan US$70 per barel, ruang kenaikan menuju kisaran pertengahan US$80 per barel masih terbuka.
Bagi Indonesia, lonjakan harga minyak ini membawa implikasi serius. Sebagai negara pengimpor minyak neto, kenaikan harga akan memperbesar beban subsidi energi dan berpotensi memperlebar defisit neraca perdagangan. Apalagi, rupiah yang tengah tertekan oleh arus modal keluar bisa semakin terdepresiasi jika harga minyak terus meroket. Pemerintah perlu segera mengkaji ulang asumsi makro dalam APBN, khususnya ICP (Indonesian Crude Price) yang menjadi patokan belanja subsidi.
Di sisi lain, pasar juga mencermati langkah Trump Media & Technology Group yang meluncurkan layanan data berbayar untuk akses cepat terhadap unggahan Presiden Donald Trump di Truth Social. Langkah ini diperkirakan akan mempercepat reaksi pelaku pasar terhadap pernyataan politik yang berpotensi memengaruhi harga minyak, menambah volatilitas dalam waktu dekat.
Pertanyaan besarnya kini: akankah eskalasi ini mendorong intervensi diplomatik atau justru memperdalam konflik? Jika serangan balasan terus berlanjut, bukan tidak mungkin harga minyak menembus level psikologis US$90 per barel dalam waktu dekat, menguji ketahanan ekonomi negara-negara konsumen termasuk Indonesia.



