ComfortDelGro Menangkan Kontrak Senilai Rp 40 Triliun untuk Kelola Metro Kopenhagen
Baca dalam 60 detik
- Konsorsium KBH Metro Partner, yang menggabungkan ComfortDelGro dan RATP Dev, memenangkan tender internasional untuk mengoperasikan dan memelihara Metro Kopenhagen selama 12 tahun.
- Kontrak senilai 17 miliar kroner Denmark (sekitar S$3,4 miliar) ini menandai ekspansi signifikan ComfortDelGro di pasar transportasi Eropa, dengan total jaringan rel yang akan melampaui 420 km.
- Kesepakatan ini memperkuat posisi ComfortDelGro sebagai pemain global dalam sistem metro otomatis, sekaligus membuka peluang bagi Indonesia untuk belajar dari pengalaman Singapura dalam mengelola transportasi perkotaan.

Konsorsium KBH Metro Partner, bentukan bersama antara raksasa transportasi Singapura ComfortDelGro dan operator asal Prancis RATP Dev, resmi ditunjuk memenangkan kontrak senilai 17 miliar kroner Denmark (sekitar S$3,4 miliar atau Rp 40 triliun) untuk mengoperasikan dan memelihara Metro Kopenhagen. Pengumuman ini disampaikan pada Senin (31/8) setelah melalui proses tender internasional yang ketat, menandai langkah besar ComfortDelGro dalam memperluas jejaknya di kancah transportasi global.
Kontrak yang akan berjalan selama 12 tahun hingga 2039, dengan opsi perpanjangan tiga tahun, ini merupakan yang kedua bagi ComfortDelGro di Skandinavia setelah sebelumnya memegang kendali operasional Metro Stockholm. Selain itu, ini menjadi kolaborasi ketiga dengan RATP Dev dalam proyek metro otomatis, menunjukkan sinergi yang solid antara kedua perusahaan. Penandatanganan kontrak dijadwalkan pada September mendatang setelah masa standstill regulasi selesai.
Metro Kopenhagen sendiri merupakan sistem kereta tanpa masinis berkapasitas tinggi yang beroperasi 24 jam sehari, tujuh hari seminggu. Dengan empat jalur, 44 stasiun, dan total panjang lintasan 43 kilometer, jaringan ini mencatat rekor 135 juta penumpang pada 2025. Selain operasional harian, KBH Metro Partner juga akan terlibat dalam proyek modernisasi dan pembaruan infrastruktur yang direncanakan dalam beberapa tahun ke depan.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menawarkan pelajaran berharga. Keberhasilan ComfortDelGro dalam mengelola sistem transportasi publik yang efisien dan berkelanjutan dapat menjadi referensi bagi pengembangan MRT dan LRT di kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya. Model kemitraan publik-swasta yang diusung, dengan pembagian risiko dan keahlian, bisa menjadi alternatif pembiayaan dan pengelolaan yang menarik di tengah keterbatasan anggaran pemerintah.
Dengan tambahan kontrak ini, total jaringan rel yang dioperasikan dan dalam tahap mobilisasi oleh ComfortDelGro akan melampaui 420 kilometer, sekitar lima kali lipat dari saat pertama kali merambah bisnis rel di luar negeri. Direktur Utama dan CEO Grup ComfortDelGro, Cheng Siak Kian, menegaskan bahwa kemenangan ini membuktikan keahlian yang dibangun di Singapura dapat direplikasi di pasar internasional. "Seleksi ini menunjukkan bagaimana keahlian rel yang kami bangun di Singapura dapat ditingkatkan menjadi model yang dapat diulang untuk pasar global," ujarnya.
Di dalam negeri, ComfortDelGro melalui anak usahanya SBS Transit mengoperasikan North East Line, Downtown Line, dan Sengkang-Punggol LRT. Ekspansi ini juga mencakup Auckland One Rail di Selandia Baru, serta proyek-proyek ambisius seperti Jurong Region Line di Singapura dan Grand Paris Express Line 15 South di Prancis. Keberhasilan ini tidak hanya menguntungkan secara finansial, tetapi juga memperkuat reputasi Singapura sebagai pusat keunggulan transportasi perkotaan.
Ke depan, pertanyaannya adalah apakah model kemitraan seperti ini dapat diadopsi di Indonesia, mengingat kompleksitas regulasi dan kebutuhan investasi yang besar. Dengan pengalaman ComfortDelGro yang terbukti, bukan tidak mungkin kolaborasi serupa bisa terjalin untuk mempercepat modernisasi transportasi publik di tanah air, sekaligus menarik investasi asing yang dibutuhkan.



