DeChambeau Balas Kritik Faldo dengan 67 Pukulan di Royal Birkdale
Baca dalam 60 detik
- Bryson DeChambeau membuka British Open dengan skor 67, membungkam kritik Nick Faldo yang meragukan strateginya di lapangan links.
- Pegolf Amerika itu menggunakan set besi cetak 3D dan menunjukkan permainan disiplin, mengungguli Scottie Scheffler dan Tyrrell Hatton.
- Kinerja ini menjadi sinyal kebangkitan setelah tiga turnamen mayor sebelumnya gagal lolos cut, dan menempatkannya dalam persaingan gelar Claret Jug.

Bryson DeChambeau menjawab keraguan tentang kemampuannya bermain di lapangan links dengan performa gemilang pada putaran pertama British Open, Kamis (16/7) waktu setempat. Pegolf Amerika itu mencatatkan skor tiga-under 67 di Royal Birkdale yang disinari matahari, langsung membungkam kritik tajam yang dilontarkan legenda golf Nick Faldo.
DeChambeau, yang dikenal dengan gaya agresif dan pukulan jarak jauh, tampil berbeda di Southport. Ia bermain lebih hati-hati dan strategis, memanfaatkan set besi cetak 3D yang ia bawa. Hasilnya, ia memulai dengan birdie berturut-turut di dua hole pertama dan menambah tiga birdie lagi di sembilan hole terakhir. Satu bogey di hole 18 akibat gagal memasukkan putt pendek sedikit menodai catatannya, tetapi secara keseluruhan ia puas.
"Pertarungan yang berat di luar sana. Angin berubah-ubah. Sangat menyenangkan melihat para penggemar mendukung kami," ujar DeChambeau, yang dikenal sebagai salah satu karakter paling karismatik di dunia golf. Ia juga memuji permainan rekan setimnya, Scottie Scheffler (68) dan Tyrrell Hatton (69), yang ia kalahkan pada hari itu.
Kritik Faldo, yang menyebut DeChambeau "tidak punya petunjuk tentang strategi" menjelang turnamen, justru menjadi motivasi. DeChambeau membuktikan bahwa ia bisa beradaptasi dengan tantangan links golf. Tahun lalu di Royal Portrush, ia juga menunjukkan kemampuan serupa dengan bangkit dari skor 78 di putaran pertama menjadi finis di posisi 10 besar.
"Saya merasa melakukan pekerjaan yang sangat baik hari ini dalam hal strategi dan fokus menempatkan bola di tempat yang tepat," kata DeChambeau. "Selain hole 18, saya menempatkan bola di area yang bagus. Saya hanya perlu lebih banyak mencapai fairway."
Hatton, yang bermain bersama DeChambeau, tidak terkejut dengan performa tersebut. "Dia mengontrol bola dengan sangat baik. Lintasan bolanya hari ini benar-benar bagus. Dia tidak banyak melakukan pukulan buruk," ujar Hatton. DeChambeau sendiri mengaku menikmati persaingan dengan Scheffler, yang saat ini menjadi pegolf nomor satu dunia. "Saya senang bermain dengannya, melihat betapa bagusnya pukulannya. Ini menjadi tolok ukur yang baik bagi permainan saya," katanya.
Bagi penggemar golf di Indonesia, penampilan DeChambeau ini menarik karena menunjukkan bahwa inovasi teknologi, seperti besi cetak 3D, dapat memberikan keunggulan kompetitif. Meski belum ada pegolf Indonesia yang berlaga di British Open, perkembangan ini bisa menjadi inspirasi bagi pegolf Tanah Air untuk lebih berani bereksperimen dengan peralatan dan strategi.
Dengan tiga putaran tersisa, DeChambeau sadar bahwa turnamen masih panjang. "Setiap kali Anda memulai dengan baik, itu luar biasa, tetapi masih ada tiga hari ke depan. Masih banyak golf yang harus dimainkan," ujarnya. Pertanyaan besarnya: mampukah ia mempertahankan konsistensi ini dan merebut Claret Jug pertamanya?



